Hoax: Benarkah Jokowi Meminta Helikopter Mewah?

aw101.jpg

Ilustrasi: Helikopter AW-101 dari situs jakartagreater.com

Pertanyaan: Banyak isu beredar yang menyatakan Jokowi tidak sensitif dengan meminta pengadaan helikopter mewah anti peluru dari Italia, AW-101. Benarkah isu tersebut?

Jawaban: Setengah hoax dan cenderung dimanipulasi supaya sensasional. Helikopter AW-101 adalah bagian dari modernisasi alutsista yang sudah direncanakan sejak 2014 (masuk dalam perencanaan 2014-2019). Ada banyak mesin perang yang diperbaharui dalam program ini, bukan sekedar helikopter saja.

Dalam rencana peremajaan ini, TNI Angkatan Udara mengantongi US$3,1 miliar atau sekitar Rp41 triliun untuk tahun 2014-2019. Anggaran itu akan mereka gunakan untuk memodernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) secara besar-besaran. Di dalamnya termasuk 12 unit jet tempur siluman Sukhoi Su-35 buatan Rusia, empat unit pesawat pemadam Beriev Be-200 buatan Rusia, dan tiga unit helikopter VVIP AgustaWestland AW101 buatan Italia-Inggris.

Pengadaan Sukhoi Su-35 sebagai pengganti skuadron F-5 Tiger yang telah uzur, menurut Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna, telah disetujui oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Sementara Beriev Be-200 akan digunakan untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan.

Permintaan pembaharuan ini bukan datang dari Jokowi, namun dari Kepala Staf Angkatan Udara, yang akan digunakan dalam berbagai tugas mengawal berbagai kepala negara yang datang ke Indonesia. Kebetulan, salah satunya bisa dipakai untuk transportasi Presiden Republik Indonesia. Namun mengingat Presiden sebenarnya sudah memiliki moda transportasi lain, seperti pesawat dan mobil kepresidenan, sebenarnya Jokowi sendiri akan jarang menggunakan helikopter tersebut.

Ini diakui sendiri oleh Presiden Jokowi:

“Semua itu kan yang membeli di sana, saya paling menggunakan sebulan atau dua bulan sekali. Itu kan penggunaannya di TNI Angkatan Udara,”

Jadi benar bahwa akan ada pembelian helikopter AW-101. Namun tidak benar bahwa atas permintaan presiden untuk bermewah-mewah, dan tidak benar bahwa penggunaannya khusus dinikmati oleh Jokowi. Pada dasarnya orang-orang yang dianggap sangat penting untuk dilindungi oleh TNI-AU bisa menggunakan helikopter tersebut.

Dan tujuan helikopter tersebut bukanlah untuk kemewahannya, sebab spesifikasi Helikopter AW-101 bukanlah interiornya yang wah, namun kemampuannya melindungi penumpangnya dari terjangan peluru.

Betul bahwa pemesanan helikopter dari luar negeri ini menimbulkan kontroversi, namun untuk diingat kembali, perencanaan sudah dilakukan sejak 2014. Pemesanannya sudah dilakukan sejak Juni 2014. Saat ini, upaya pembelian ini berusaha dilakukan peninjauan. Jokowi berjanji akan mengevaluasi ulang sekembalinya dari Perancis. Sementara Wapres Jusuf Kalla sudah menegaskan bahwa rencana pembelian tersebut perlu dievaluasi ulang karena mengunakan uang rakyat, tidak boleh diboroskan.

”Nah, yang seperti ini jangan sampai terjadi. Harus hati-hati betul sebab ini uang rakyat. Saya justru khawatir jangan jangan heli buangan dari India dibeli Indonesia, sebab jumlahnya sama. Jenisnya juga sama,” tukas JK curiga. Sejumlah anggota Komisi I DPR juga sependapat bahwa pembelian helikopter AW- 101 harus dievaluasi.

Pertanyaan: Mengapa Tidak Memesan Helikopter PTDI?

Jawaban: Isu lain muncul terkait produsen pembuat helikopter yang merupakan perusahaan di luar negeri, AgustaWestland. Ini banyak disayangkan karena selama ini PTDI sudah mampu memproduksi  EC 725 Cougar yang merupakan generasi terbaru Super Puma versi militer. Helikopter ini dianggap sebanding dengan AW-101. Selain itu, produk Agusta Westland dianggap lebih mahal.

Menjawab hal ini, KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna menyatakan rencana pembelian helikopter AW- 101 lantaran kinerja PT DI lamban. Menurut dua, ada beberapa pesanan TNI AU hingga kini belum dikirimkan. ”Seperti pesanan enam unit helikopter Super Cougar atau yang juga dikenal sebagai Eurocopter EC725 Caracal untuk rencana strategis (renstra) I pada 2010-2014, seharusnya datang Mei 2015 lalu,” kata Agus saat menghadiri HUT ke-44 Korpri di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur, kemarin.

Dia mengakui, dari pesanan enam helikopter transportasi taktis jarak jauh itu sudah ada beberapa yang siap dikirimkan. Namun, TNI AU tidak mau menerima jika pesanan belum lengkap. Untuk diketahui, kontrak ditandatangani pada 2012 dan seharusnya selesai dalam waktu 38 bulan sehingga perjanjian pun diamendemen sehingga waktunya mundur. Terkait pernyataan ini, Anggota Komisi I DPR Bobby Rizaldi mengatakan polemik pengadaan helikopter kepresidenan dan pernyataan KSAU Supriatna atas kemampuan PTDI perlu segera ditindaklanjuti secara serius.

”KSAU sebagai komisaris PTDI perlu membuka ke publik kinerja PTDI saat ini, apa yang berbeda seperti pernyataan Dirut PTDI Budi Santoso,” katanya.

Pertanyaan: Sumber mana yang bisa saya baca untuk memastikan informasi ini benar?

Jawab: Silakan membuka link berikut ini:

http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=2&date=2015-12-01

http://nasional.tempo.co/read/news/2015/11/28/078723064/Gaduh-Helikopter-VVIP-Ini-Pengakuan-Jujur-Presiden-Jokowi

http://jambi.tribunnews.com/2015/12/01/kalla-soal-helikopter-vvip-kita-evaluasi-ulang-ya-ini-uang-rakyat

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20151127105355-20-94440/belanja-rp41-triliun-tni-au-heli-vvip-ke-jet-tempur-siluman/

http://www.cnnindonesia.com/politik/20151201114437-32-95164/pulang-dari-paris-jokowi-akan-kaji-ulang-pembelian-heli-vvip/

http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=0&date=2015-11-30

http://jakartagreater.com/57269-2/

Pertanyaan: Adakah meme atau infografis yang bisa saya sebarkan untuk membantah fitnah ini?

Jawab: Silakan sebarkan meme berikut:

helikopter.jpg

 

Be the first to comment

Leave a Reply