HOAX: Benarkah Teror Sarinah Diciptakan Pemerintah Sendiri?

Pertanyaan: Benarkah pemerintah, polisi, atau militer menciptakan teror Sarinah untuk mengalihkan isu?

Jawaban: Tidak. Tidak ada alasan negara mengalihkan isu dengan mengorbankan begitu banyak aparat dan warga negaranya sendiri. Teori tersebut konyol, tidak beralasan,  menggelikan, serta bisa diperkarakan karena sudah termasuk kategori fitnah dan menciptakan keresahan masyarakat. Polisi menyatakan akan memburu penyebar isu konspirasi tersebut, jadi jangan sekali-sekali mencoba menyebarkannya lagi.

Pertanyaan: Lho, tapi katanya pada tanggal yang sama pemerintah sedang memperpanjang kontrak dengan Freeport sehingga perlu pengalih isu?

Jawaban: Tidak benar ada perpanjangan kontrak apapun dengan Freeport pada tanggal 14 Januari 2016. Yang terjadi adalah pada tanggal tersebut adalah tenggat penawaran divestasi saham Freeport Indonesia. Freeport menawarkan divestasi sebesar US$1,7 Miliar untuk 10,64% saham. Pemerintah belum memberi tanggapan resmi lebih lanjut apakah benar akan membeli atau tidak penawaran saham tersebut. Posisi Indonesia sebagai pihak yang ditawari adalah berhak mendiamkan, menerima, maupun menolak tawaran begitu saja.

Namun yang pasti, belum ada kesepakatan lebih lanjut yang sudah ditandatangani dengan Freeport. Presiden Jokowi masih kukuh bahwa kontrak Freeport baru bisa diperpanjang 2019. Untuk bisa terjadi perpanjangan pun, masih banyak syarat yang harus dipatuhi oleh Freeport, antara lain  pembangunan Papua, peningkatan lokal konten, divestasi, royalti dan industri pertambangan di Papua, serta menyelesaikan pembangunan smelter di Indonesia. Jadi tidak selesai dengan kabar mengenai penawaran divestasi saja.

Pertanyaan: Tapi benarkah yang jadi korban adalah polisi saja, sehingga patut diduga ini adalah drama?

Jawaban: Bohong besar. Korban sipil banyak berjatuhan dengan data sebagai korban luka-luka sebanyak 25 orang (sipil+polisi). 4 orang warga sipil jatuh sebagai korban jiwa, dan 4 lainnya adalah pelaku penembakan dan pemboman. Satu dari korban jiwa warga sipil adalah warga asing. Bagaimana mungkin ini dituding sebagai drama dari aparat?

Berikut adalah list korban jiwa dan sipil, seperti dikutip dari situs berita Rappler:

  1. Ahmad Muhazan – pelaku, kelahiran 5 Juli 1990, alamat di Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat
  2. Muhamad Ali – pelaku, kelahiran 17 Maret 1976, alamat di Kampung Sanggrahan, Kembangan, Jakarta Barat
  3. Dian Juni Kurnadi – pelaku, kelahiran tahun 1990, alamat di Jalan Jenderal Sudirman Kav 18, Jakarta dan Kotawaringin, Kalimantan Tengah.
  4. Afif alias Sunakin – tanggal lahir belum diketahui
  5. Sugito – Warga sipil, kelahiran 23 Februari 1973, alamat di Purwasari, Karawang, Jawa Barat
  6. Rico Hermawan – Warga sipil, kelahiran tahun 1995
  7. Amir Quali Tamer – WNA Kanada, kelahiran 23 Juni 1990
  8. Rais – Warga sipil sekuriti Bangkok Bank, luka tembak di kepala dan dalam kondisi mati batang otak (MBO). Ia sebelumnya menjalani perawatan di RS Abdi Waluyo sebelum meninggal pada Sabtu malam, 16 Januari.

Sementara korban luka banyak jatuh dari polisi dan warga sipil, sebanyak 25 orang:

  1. Aiptu Deni – Anggota Polri, luka di kaki, masih dirawat di ruang ICU
  2. Indah Pustpita Sari – Warga sipil, luka di kening sebelah kiri dan perut memar, sudah diijinkan pulang
  3. Mira Puspita – Warga sipil, luka kaki kanan dan jilbab terbakar, sudah diijinkan pulang
  4. Venosia Dyah Mavianti – Warga sipil, luka robek di kepala belakang, sudah diijinkan pulang
  5. Aiptu Dodi Maryadi – Anggota Polri, luka tembak di perut
  6. Aiptu Budiyono – Anggota Polri Jakarta Pusat, luka tembak di perut dan dada, masih dirawat di ruang ICU
  7. Budi Rachmat – Warga sipil, luka tembak di dada kiri, sudah membaik dan diijinkan pulang
  8. Anggun Antiasari – Warga sipil, luka kaki kanan
  9. Chairul – Warga Sipil, luka punggung kanan dan tangan kanan
  10. Yohanen Antonius Maria alias Johan Kieft – WNA Belanda, luka tangan kiri patah dan tempurung kaki pecah, akan dirujuk keluarga ke Singapura
  11. Mr. Marek – WNA Aljazair, luka di dada kiri dan kaki kiri patah
  12. Agus Kurnia – Warga sipil, luka di kepala
  13. Permana – Warga sipil, luka punggung kiri.
  14. Aiptu Suhadi – Anggota Polri, luka tembak di punggung dua kali
  15. Aldi Tardiansyah – Warga sipil, luka serpihan di telinga
  16. Afrizal – Warga sipil, luka serpihan di dahi dan siku kiri
  17. Manfred Stoif – WNA Austria, luka robek pergelangan tangan kanan dan kiri, akan dirujuk oleh keluarga ke Singapura
  18. Frank Feunen – WNA Jerman, luka robek di dahi dan leher
  19. Riter Willy Putra – Warga sipil, luka punggung kiri belakang, sudah diijinkan pulang
  20. Brigadir Suminto – Anggota Polri, luka tembak di tangan sebelah kiri tembus ke ketiak
  21. Adi Saputro – Warga sipil, luka kepala bagian kiri
  22. John Hansen – Warga sipil, trauma, sudah diijinkan pulang
  23. Meissy Sabardiah – Warga sipil, luka bagian mata kaki kiri, sudah diijinkan pulang
  24. Andi Dina Noviana – Warga sipil, luka robek di dahi dan lengan kiri bawah, pendarahan di kedua telinga, sudah diijinkan pulang
  25. Dwi Siti Ramdani – Warga sipil, luka berat, patah tulang leher bagian belakang

Jadi bohong dan manipulatif sekali pihak-pihak dan pengamat sok tahu yang menyatakan korban hanya jatuh dari pihak aparat.

Pertanyaan: Benarkah pelaku teror terlihat seperti militer terlatih?

Jawaban: Yang benar adalah: pelaku kemungkinan adalah militia (warga sipil yang diberi pendidikan tempur). Pelaku mungkin memiliki dasar pengetahuan mengenai peledak dan senjata, namun tidak menguasai penggunaan senjata secara sempurna. Sehingga banyak yang menyimpulkan serangan ini serangan kilat dan amatir. 

Contohnya memegang senjata dengan tangan kanan namun membalik penggunaannya saat mengokang (yang berarti tangan kirinya tidak cukup kuat dan terlatih untuk mengokang senjata dengan tangan kiri. Pelaku juga memegang senjata dengan siku yang tidak lurus, sehingga membuat senjata sulit dikendalikan.

Inilah yang mungkin membuat tidak terlalu banyak tembakan pelaku yang secara fatal merenggut nyawa korban sipil (jika dibandingkan dengan serangan Perancis yang menelan korban 130 jiwa).

Screen Shot 2016-01-18 at 3.52.01 PM.png

Screen Shot 2016-01-18 at 3.52.12 PM.png

Pertanyaan: Benarkah senjata korban mirip senjata resmi aparat?

Jawaban: Tidak, walaupun senjata tersebut mungkin mirip dengan FN Browning, namun di sisi lain juga merupakan senjata yang sering ditiru menjadi senjata rakitan. Polisi masih menelusuri sumber senjata api yang diduga diselundupkan dari Filipina ini. 

Screen Shot 2016-01-18 at 3.54.49 PM.png

 

Pertanyaan: Mengapa aparat terlihat sudah sangat siap dan tiba-tiba mengerubungi pelaku dalam waktu singkat?

Jawaban: Pertama, Sarinah dan Thamrin adalah jantung ibukota negara. Letaknya hanya beberapa ratus meter dari istana negara. Sehingga wajar jika banyak aparat yang bertugas mengawasi daerah ini, walaupun mungkin beberapa tidak terlihat berseragam dalam keseharian bertugasnya, sehingga kita tidak menyadari kehadiran mereka.

Kedua, sesuai dengan pengakuan AKBP Untung Sangaji, di saat bersamaan sedang ada demonstrasi di sekitar istana, sehingga banyak polisi yang disiagakan di ring utama maupun ring luar istana. Sarinah masih masuk ring luar istana sehingga ada beberapa polisi yang sedang siaga berjaga, termasuk AKBP Untung Sangaji. Ini standar yang berlaku sepanjang waktu saat ada demonstasi di sekitar istana.

Pertanyaan: Dari mana saja informasi sumber informasi yang bisa saya baca mengenai serangan ini?

Jawaban: Di artikel di atas sudah diberikan link, di bagian tulisan berwarna biru atau ungu bergaris bawah.

Pertanyaan: Adakah meme yang bisa saya bantu sebarkan untuk melawan ketakutan dari teror di Sarinah?

Jawaban: Silakan buka link ini: https://www.facebook.com/hariadhi/media_set?set=a.10153501216719613.1073741853.743149612&type=3 . Sudah ada berbagai meme lucu dengan tagar #KamiTidakTakut

Be the first to comment

Leave a Reply