Ahok Tidak Banding, Yang Waras Memang Harus Ngalah

Ketika masih ada harapan untuk berjuang demi keadilan, ternyata yang saya temui adalah tangisan sedih Ibu Vero isteri dari Basuki alias Ahok  yang dengan ketegaran hatinya membacakan sendiri surat dari suaminya tercinta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang ditulis tangan dari dalam selnya, saat mendengar bahwa  Ahok memutuskan untuk menerima vonis hakim, dan membatalkan niatnya untuk naik banding, membuat saya merinding dan juga turut menangis, tetapi menurut saya keputusan Basuki memang sudah seharusnya seperti itu, karena apa? Karena dia masih waras, selagi kita masih waras lebih baik mengalah saja.  Biarlah Tuhan yang Maha adil yang memutuskan.

Biarlah para hakim yang memutuskan Ahok bersalah bisa tidur dengan nyenyak, para ontaers dan kambingers yang selalu hadir mendemonya bisa tidur dengan nyenyak, para penyandang dana untuk demo bisa berhemat karena tidak perlu demo lagi dan uangnya bisa untuk membuat hal-hal lain yang lebih bermanfaat dan partai Gerindra, PKS juga FPI  bisa tidur dengan nyenyak, karena tidak ada lagi yang harus mereka demo. Puas? Ahok  sudah dinyatakan bersalah, dan dipenjara, kekuasaan sudah didapatkan, kemenangan sudah diraih. Dan pesta tumpengan ala Gerindra sudah dilakukan pokoknya berbahagialah para lawan Ahok.

Kewarasan di bumi Pertiwi harus dijaga, orang-orang waras harus tetap waras, biarlah yang waras tersembunyi jauh dalam keheningan, jauh dari hiruk pikuk alam demokrasi ini. Demokrasi nenek lu!.

Salahkah saya ketika mempertanyakan arti demokrasi kepada anda semua, ketika sekumpulan masa menekan dan meminta Basuki dipenjara dengan kedok bela agama, dibilang demokrasi. Sekumpulan orang dengan tujuan jelas yaitu politik dengan kedok bela agama dibilang demokrasi.

Salahkah saya ketika mempertanyakan arti keadilan, saat Basuki dibilang terbukti menista agama?, Salahkah saya ketika mempertanyakan keadilan disaat bukti-bukti tidak bisa mendukung keputusan hakim?

Memang sudah sedikit yang waras di bumi Pertiwi ini, ketika segerombolan yang menamakan dirinya partai sangat berambisi untuk berkuasa sehingga menghalalkan segala cara, menggunakan agama sebagai alatnya. Dan atas nama demokrasi semua orang hanya diam.

Tidak perlu melakukan analisa terhadap apa yang dilakukan oleh Ahok, semua sudah jelas, yang waras memang harus ngalah, kenapa tidak jika beliau mengajukan banding, maka sekelompok orang-orang yang supersuci selevel malaikat akan mendemonya, mereka akan terus mendemonya saat sidang banding, sudah terang benderanglah siapa yang mendanai mereka, tapi atas nama demokrasi dibiarkan saja mereka berdemo. Atas nama demokrasi siapa yang kuat bisa mengumpulkan masa banyak itu yang menang. Gak usah bicara tentang ksatria-ksatrianlah karena ksatria hanya ada dalam dongeng-dongeng saja, di negeri ini ksatria hanya diam, karena saat bicara mereka malah dihujat oleh orang yang merasa diri sudah menjadi malaikat, di negeri ini yang ada ontaers, kambingers berkedok ksatria. Yang teriak-teriak prihatin tanpa memberi solusi, yang teriak-teriak anti korupsi tapi malah korupsi, yang memakai baju agama untuk menutupi nafsunya. Herannya kok ada pengikutnya.

Keberanian Basuki tentu tidak sebanding dengan apa yang dilakukan orang-orang itu, yang kabur saat ketahuan berbuat cabul, dan tidak berani membuktikan bahwa dia benar. Basuki sudah membuktikan bahwa dia benar, bahwa dia masih waras.

Sudahlah apa yang bisa saya lakukan hanya menulis, itupun kalau ada yang membacanya, jika tidak  tulisan ini hanya menjadi tulisan yang sekedar lewat saja. Tapi demi mempertahankan kewarasan saya, saya tetap menulis, dengan harapan demokrasi di Indonesia bisa menjadi lebih baik, supaya demokrasi tidak sekedar diartikan bebas demo kapan saja dimana saja, supaya orang sadar bahwa demokrasi tidak berarti boleh berkampanye menggunakan isu SARA. Supaya orang sadar bahwa agama adalah urusannya masing-masing pribadi dengan Sang Maha Esa, jangan dibawa ke hal-hal lain yang justru merendahkan nilai-nilai agama itu sendiri.

Apapun yang sudah diputuskan oleh Ahok mungkin itulah yang terbaik bagi dirinya, Istri dan anaknya, juga keluarganya dan juga untuk bangsa ini, agar semua elemen bangsa ini bisa merenung, merenungkan kembali makna demokrasi, merenungkan kembali makna keadilan. Merenungkan kembali akan keimanan kita kepada Yang Maha Esa, apapun agama kita. Menjadi waras itulah harapan kita semua, menjadi waras itulah harapan saya, menjadi waras tidak hanya dilihat dari luarnya saja, dari asesoris yang dipakainya. Menjadi waras berdasarkan perbuatan, amal dan ucapannya.

#jangandiam #tetapwaras#melawanlupa

Be the first to comment

Leave a Reply