Pesan Megawati Tentang Arti Penting Pancasila

Hari ini, 1 Juni 2017, Megawati Soekarnoputri, Presiden kelima Republik Indonesia, menyampaikan gagasannya di Jeju Forum for Peace and Posperity 2017. Megawati sebagai pembicara kunci dalam sesi pemimpin dunia menyampaikan gagasan yang berjudul “Pancasila, Masa Depan Asia”

Berikut Pidato Lengkapnya:

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh; Salam Damai Sejahtera.

– Yang saya hormati Mr. Al Gore, Wakil Presiden ke 45 Amerika Serikat.
– Yang saya hormati Mr. Cavaco Silva Anibal, Presiden Portugal ke-19.
– Yang saya hormati Mr. Ochirbart Punsalmaa, Presiden pertama Mongolia
– Yang saya hormati Mr. Han Seung-soo, Perdana Menteri Republik Korea ke-39.
Yang saya hormati Mr. Lee Hong-koo, Perdana Menteri Republik Korea ke-28.
– Yang saya hormati Mr. Won Hee Ryong, Gubernur Jeju, Republik Korea.

Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa menyampaikan gagasan tentang “strengthening and enhancing Global Peace and Prosperity” di forum yang sangat penting ini.

Saudara-saudara,
Keberangkatan saya ke Korea Selatan kali ini diliputi oleh suasana duka. Beberapa hari lalu telah terjadi bom bunuh diri yang menelan korban jiwa di Jakarta, Indonesia. Ini bukan serangan pertama kali yang terjadi di negeri kami, dengan alasan menegakkan ajaran agama. Peristiwa serupa terjadi juga di Bangkok, Thailand. Bahkan, hingga hari ini kota Marawi, Filipina juga sedang berjuang atas serangan dan pendudukan yang dilakukan oleh kelompok yang mengaku berafiliasi dengan ISIS. Bukan hanya di Asia sesungguhnya teror serupa pun terjadi di belahan dunia lainnya, termasuk di Inggris baru-baru ini.

Saudara-saudara, inikah yang dimaksud peradaban modern? Mari kita bandingkan dengan salah satu peristiwa penting di abad ke-20, yaitu Konferensi Asia-Afrika, yang diadakan di Bandung, Indonesia.

Bayangkan, saat itu di tahun 1955, para pendiri bangsa Asia dan Afrika, dengan segala keterbatasan yang ada, mereka datang untuk duduk bersama. Mereka singkirkan sekat-sekat perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Kehadiran mereka sekaligus sebagai perwakilan berbagai mazhab politik dan ekonomi. Namun, mereka mampu menjadikan segala perbedaan sebagai kekuatan. Kekuatan bukan sekedar untuk bangsanya, tetapi perbedaan menjadi kekuatan untuk membangun sebuah peradaban baru, yaitu kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia, Afrika, bahkan Amerika Latin. Kita hayati peristiwa tersebut, kita renungkan. Bandingkan dengan berbagai konflik yang terjadi saat ini. Teriris hati saya, menyaksikan saat ini terjadi pertumpahan darah akibat merasa berbeda pemahaman terhadap ajaran agama.

Ijinkan saya menyampaikan kutipan dari pidato Bung Karno yang disampaikan beliau pada pembukaan konferensi Asia Afrika 18 April 1955:

“Saya tahu bahwa di Asia dan Afrika terdapat perbedaan agama, keyakinan dan kepercayaan lebih banyak daripada di benua-benua lainnya di dunia ini. …Asia dan Afrika semenjak purbakala adalah tempat kelahiran keyakinan-keyakinan dan cita-cita, yang kini telah tersebar di seluruh dunia. Agaknya, di sini terdapat lebih banyak agama daripada di wilayah lain di muka bumi ini. Tetapi,…. Haruskah kita terpecah-belah karena adanya macam ragam dalam kehidupan keagamaan kita? Benar, tiap-tiap agama mempunyai sejarahnya sendiri, sifat keistimewaan sendiri, “rasion d’etre”-nya sendiri, kebanggaan istimewa dalam keimanannya sendiri, misinya sendiri, kebenaran-kebenaran khusus yang hendak disiar-siarkannya. Tetapi, kalau kita tidak menyadari bahwa semua agama besar adalah sama dalam pesannya untuk mengutamakan toleransi, dan dalam anjurannya untuk mengamalkan prinsip “Hidup dan membiarkan hidup”. Kalau para penganut setiap agama tidak siap sedia untuk dengan cara yang sama menghormati hak-hak orang lain di manapun juga. Kalau setiap negara tidak melakukan kewajibannya untuk memberi hak yang sama kepada penganut segala keyakinan,…. Kalau semua itu tidak dilaksanakan, maka agama akan turun derajatnya dan tujuan yang sebenarnya akan tercemar dan terputar balik. Kalau negeri-negeri Asia-Afrika tidak sadar akan tanggung jawabnya dalam urusan ini, dan tidak mengambil tindakan bersama untuk memenuhinya, maka kekuatan kepercayaan keagamaan, yang sedianya menjadi sumber persatuan dan benteng terhadap campur tangan asing, justru akan menyebabkan perpecahan dan dapat mengakibatkan hancurnya kemerdekaan yang telah diperoleh dengan susah payah oleh bagian-bagian Asia dan Afrika, yang telah bertindak bersama-sama.”

Saudara-saudara

Menurut saya, gagasan, ide, prinsip dan cita-cita para pendiri bangsa Asia yang bergabung dalam Konferensi Asia Afrika sudah seharusnya dijadikan pijakan bagi gerak dan langkah bersama Asia. Hal ini juga termasuk dalam menyikapi menguatnya gerakan ekstrim yang mengatasnamakan ajaran agama tertentu. Ini saatnya kembali belajar dari para pendiri bangsa, belajar dari sejarah Konferensi Asia-Afrika: “bahkan keberagaman yang sesungguhnya kodrati bagi setiap mahluk hidup, ternyata tidak dapat bertahan tanpa ada perjuangan gotong royong untuk mempertahankan keberagaman!

Saudara-saudara

Globalisasi mengakibatkan dunia seolah tanpa sekat. Berbagai problematika yang lahir pun, terjadi dan terkoneksi lintas negara, dari mulai perdagangan manusia, peredaran narkotika, kejahatan keuangan, hingga isu terorisme, mana yang tidak saling terkait dan tidak melibatkan rakyat dari lintas negara? Dan jangan hanya berfikir problematika tersebut hanya akan menerpa negara-negara yang dicap dunia ketiga, tengoklah krisis multi dimensi yang juga terjadi di negara-negara maju!

Saudara-saudara

Pada kesempatan ini, saya ucapkan terima kasih kepada yang terhormat Al Gore, yang telah tanpa lelah menyuarakan tentang perubahan ikilm yang berdampak besar pada peradaban manusia. Saya setuju dengan apa yang pernah disampaikan Al Gore di festival Film Cannes baru-baru ini, “Not even a president can’t stop the climate movement!”. Benar sekali, tidak ada satu kekuasaan pun yang akan mampu menghentikan gerakan iklim. Namun, tentu bukan berarti kita berdiam diri atau malah terjebak dalam komersialisasi isu perubahan iklim melalui “carbon trade”.

Saya mencermati Perjanjian internasional terkait perubahan iklim, Salah satunya Perjanjian Paris 2015. Perjanjian ini mengubah pola struktur penurunan emisi yang sebelumnya diatur dalam Perjanjian Kyoto. Sudah saatnya kita serius berupaya keras bersama-sama mencapai target penurunan emisi dunia. Saya mengajak anda semua untuk terlibat dalam gerakan “keadilan iklim”. Kita pun perlu membangkitkan kesadaran negara-negara maju, yang terindikasi kuat berkontribusi selama bertahun-tahun terhadap menumpuknya gas rumah kaca di atmosfir. Kini tiba waktunya mereka lunasi “hutang emisi” tersebut. Selain itu, kesepakatan internasional lain yang harus kita upayakan serius adalah penghitungan emisi yang harus didasarkan pada penghitungan emisi per kapita, dengan prinsip utama: “setiap orang di belahan bumi manapun memiliki hak yang sama terhadap atmosfir.”

Saudara-saudara,

Hari ini, tanggal 1 Juni 2017. Tepat 72 tahun lalu Bung Karno menyampaikan pidato politik, “Pidato 1 Juni 1945: Lahirnya Pancasila”. Pancasila kemudian ditetapkan sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Pancasila, lima prinsip dasar. Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Segenap rakyat ber-Tuhan secara berkebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama. Ke-Tuhan-an yang berbudi pekerti luhur, yang hormat-menghormati satu sama lain. Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Prinsip ini mematrikan kebangsaan atau nasionalisme. Nasionalisme merupakan gerakan pembebasan, suatu jawaban terhadap penindasan, serta inspirasi agung dari kemerdekaan. Prinsip ini merupakan komitmen Indonesia untuk mencapai keadilan dan kemakmuran. Bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk bangsa-bangsa lain. Kami Nasionalis, kami cinta kepada bangsa kami dan kepada semua bangsa. Ketiga, Persatuan Indonesia. Prinsip ini menunjukkan pentingannya bergandengan erat satu sama lain, sehingga dikatakan pula sebagai internasionalisme. Antara nasionalisme dan internasionalisme tidak ada perselisihan atau pertentangan. Internasionalisme hanya dapat tumbuh dan berkembang di atas tanah subur nasionalisme. Dengan prinsip internasionalisme setiap bangsa menghargai dan menjaga hak-hak semua bangsa, baik besar maupun kecil. Internasionalisme sejati adalah suatu tanda bahwa suatu bangsa sudah dewasa dan bertanggung jawab, meninggalkan rasa keunggulan rasial, menanggalkan penyakit chauvinisme dan kosmopolitanisme. Keempat, musyawarah untuk mufakat, demokrasi. Demokrasi bukan monopoli atau penemuan dari aturan sosial barat. Demokrasi yang dimaksud merupakan keadaan asli manusia, meskipun mengalami perubahan implementasi untuk disesuaikan dengan kondisi-kondisi sosial yang khusus. Kelima, keadilan sosial, yang di dalamnya melekat, tak terpisahkan, suatu kemakmuran sosial.

Saudara-saudara

Itulah Pancasila kami, Ketuhanan Yang Maha Esa, Nasionalisme, Internasionalisme, Demokrasi dan Keadilan Sosial. Itulah way of live bangsa Indonesia. Pancasila menjadi penuntun kehidupan spiritual, politik, ekonomi, sosial dan budaya, yang terus kami perjuangkan.

Silakan saudara renungkan, betapa Pancasila mempunyai arti universal dan dapat digunakan secara internasional, termasuk menjadi spirit dan prinsip dalam mencari solusi kehidupan bersama kita di abad 21 ini. Sungguh saya meyakini, semoga ini dapat menjadi keyakinan saudara semua, kita pasti sanggup mengambil tindakan bersama, memilih jalan damai dalam setiap penyelesaian konflik dan sengketa. Karena saya percaya, tidak ada di antara kita yang bercita-cita untuk mewariskan kebencian dan perpecahan dari generasi ke generasi.

Dengan segala kerendahan hati, saya tawarkan prinsip-prinsip yang ada dalam Pancasila untuk menjadi way of life bangsa-bangsa Asia, sebagai bekal Asia untuk memberikan kontribusi pada perdamaian dunia, pada upaya mengakhiri pemiskinan dan penindasan. Dengan spirit Pancasila, saya yakin Asia mampu memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan sosial dunia, sekarang dan masa yang akan datang!

Terima kasih

Jeju, 1 Juni 2017

Megawati Soekarnoputri
Ketua Umum PDI Perjuangan
Presiden Ke 5 Republik Indonesia

Be the first to comment

Leave a Reply