Berkedok “Jihadi” padahal Boneka Imperialis


Adanya perselisihan dan perseteruan diantara negara-negara di Emirat Arab ataupun Timur Tengah maka tentunya akan ada efek bagi seluruh umat Islam di dunia. Yang akan memicu adanya perang saudara sesama muslim. Semua ini tak lain dari karya imperial barat dengan watak neokolonial yang menciptakan proxy war.

Perpecahan dan politik adu domba ini tidak menutup kemungkinan akan melebar ke mana-mana dalam jangka panjang. Nusantara belakangan ini sudah memperlihatkan perselisihan antar muslim, bukan menyadari bahwa semua itu adalah adu domba, yang namanya proxy war ada agenda yang terselubung tentunya untuk sebuah keuntungan negara yang menciptakannya.

Jika benar akar polemik perseteruan adalah Suni-Syiah, maka barang mustahil Iran, Suriah, ngotot membantu Palestina, karena mayoritas Palestina adalah Sunni. Dan sekarang Qatar yang sunni berseteru dengan Arab yang juga sunni.

Tentunya pemutusan hubungan diplomatik Arab – Qatar bukan terletak pada klaim dukungan terhadap teroris. Karena diketahui Qatar cukup mesra dengan Iran seperti dalam kerjasama pengelolaan ladang gas cair di Teluk Persia yaitu blok South Pars (Iran) dan blok North Field (Qatar) begitu juga dalam hal perdagangan. Iran yang merupakan paling vocal menentang imperial barat tentunya tidak disukai USA jika Qatar mesra dengan Iran, mengejutkan usai kedatangan Trump ke Arab, tiba-tiba Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar yang dituduh mendukung teroris oleh Arab, padahal kedua negara tersebut sekutu dekat dan sama-sama sunni.

USA yang dibelakangnya zionis membuat alur cerita seperti di film Hollywood, penjahat yang tampil seperti malaikat di depan publik global.

Untuk diketahui bahwa Kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke luar negeri pertama kali adalah ke Arab, setelah itu ke Israel. Dan dari kunjungan Trump (AS) ke Arab juga tak lepas dari bisnis, salah satunya adalah penjualan senjata.

Kontrak tersebut bernilai USD100 miliar kepada kerajaan di Timur Tengah itu. Pemimpin Arab Saudi juga telah mengundang puluhan pemimpin dari negara-negara Islam untuk bertemu dengan Trump.

Presiden Trump, yang sedang menghadapi sejumlah skandal politik di dalam negeri, berusaha untuk memanfaatkan kunjungan ini untuk menunjukkan bahwa Amerika adalah pemimpin global yang akan membantu terciptanya aliansi baru dengan para pemimpin Islam untuk melawan teroris radikal.

“(Aliansi) ini akan menghilangkan kesan bahwa Amerika adalah anti-Islam,” kata Menteri Luar Negeri Saudi Arabia Adel al-Jubair kepada wartawan belum lama ini. (Metrotvnews)

Akan ditetapi disisi lain, jika Amerika adalah negara yang melawan teroris. Itu adalah bullshit. Hal ini dapat kita lihat saat AS mengecam Rusia bahkan kecaman itu dilakukan di PBB, karena Rusia membombardir gerakan radikal di Suriah untuk mendukung pemerintahan Bassar Al Assad. Logikanya jika AS anti kelompok radikal, tentu dia tidak akan mengecam Rusia namun mendukung bahkan bersatu melawan gerakan radikalis yang berkedok “jihadi” saat di Suriah. Artinya memang tidak ada yang beres dari Amerika dan sekutunya imperial barat.

Dalam film Hollywood, Amerika selalu ditampilkan sebagai pahlawan dan selalu menang dalam konflik, ternyata hal ini juga berlaku dalam kenyataannya. Sederhananya adalah maling teriak maling. Untuk diketahui bersama bahwa pemutusan hubungan diplomatik yang dilakukan Arab terhadap Qatar terjadi pasca kunjungan Trump (AS) ke Arab.

Pemutusan hubungan diplomatik yang dilakukan Arab. Tentu akan membuahkan dampak bagi Qatar, baik dari segi politik, militer maupun ekonomi. Dan tentunya tidak menutup kemungkinan akan mempengaruhi kerukunan masyarakat kedua negara disana yang sama-sama meyakini sunni.

Adel Abdel Ghafar, seorang ilmuwan di Brookings Doha Center mengatakan, pemutusan hubungan diplomatik dengan Qatar bisa berimplikasi pada keamanan pangan negara itu. Negara Teluk kaya minyak itu mengandalkan impor makanan dari Arab Saudi, khususnya susu dan unggas yang diangkut melalui darat dan udara. (tempo)

Terkutuklah kekaisaran imperial barat dan kelompok berkedok “jihadi” dan khilafah yang diotaki zionis. Seiman menjadi Perang, tak seiman saling bantai, dibelakang tirai imperial global menghitung angka nominal.

Di Nusantara watak-watak wahabi salafi ataupun kelompok fundamental ektrimis agama yang berkedok “jihadi” untuk kemudian menciptakan masyarakat “monis” dibawah payung khilafah lalu teriak anti asing aseng tak lain adalah omong kosong, kasarnya adalah Anj*ng imperialis, halusnya boneka imperial.



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply