Gara-gara Jokowi Tumbuhlah Cinta pada Motor Berhijab yang Berasap



Ada kisah unik ketika Jokowi belum dilantik jadi Presiden ke-7 Republik Indonesia. Berawal dari sebuah obrolan di Pujowinatan -rumah Mbah Kartini Pujowiyono- sekitar tiga tahun lalu.

Kala itu sedang santer kabar bahwa Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi akan naik. Namanya isu kenaikan harga BBM selalu saja jadi momok penebar ketakutan dan ketidakpastian. Sudah jadi semacam kutukan kalau kenaikan harga BBM pasti diikuti kenaikan harga barang komoditi lain.

Tidak jarang, ketika isu kenaikan harga BBM berhembus kencang, harga barang-barang lain sudah naik duluan. Prinsipnya jangan sampai keduluan dengan kenaikan harga BBM. Seolah ini pertaruhan gengsi atau harga diri. Gengsilah sama BBM kalau naiknya terlambat.

Itu baru isu. Harga barang sudah naik dulu. Ketika harga BBM benar-benar naik, harga-harga barang yang sudah duluan naik pun seolah menemukan legitimasi baru untuk ikut-ikutan naik lagi. Inilah yang harus dimaklumi mengapa isu kenaikan harga BBM membuat banyak orang tidak bahagia. Termasuk saya.

Yang kadang bikin jengkel, ketika harga BBM pernah turun, tidak ada cerita harga barang-barang keluaran pabrik yang sudah di toko dengan ikhlas mau turun. Harga olie mesin misalnya. Dijamin halal kalau naik terus. Sebaliknya seolah jadi haram kalau harganya diturunkan. Inilah bagian kutukan dari kenaikan harga BBM yang tidak terelakkan.

Jadilah, kenaikan harga BBM merupakan hal yang pahit. Belum lagi ketika didahului kelangkaan BBM. Pernah, bersama calon istri kala itu, dengan berkendara motor tua Honda CB warna biru yang melambangkan birunya cinta, hingga kehabisan bensin. Sudah mendorong lumayan berkeringat, antri pun mengular Pyton. Lengkap sudah derita gara-gara bensin langka.

Tidak heran bila isu Jokowi harus menaikkan harga BBM setelah dilantik benar-benar bukan kabar baik. Sampai-sampai tanya Bancol pun mengemuka di Pujowinatan pada suatu malam. “Piye to, Pak Jokowi? Dipilih dadi Presiden malah arep ngunggahke rega BBM. Pait caah…” (Bagaimana sih, Pak Jokowi? Dipilih jadi Presiden malah mau menaikkan harga BBM. Pahit caah…)

Adalah Bro Totok yang entah dapat ilham dari mana menyampaikan tanggapan yang brilian. “Wiwit saiki tuku Pertamax Col… Pendukung Jokowi kok nyremimih. Rega BBM munggah wae mbingungi. Kuwi kan merga pemerintah sadurunge salah urus” (Mulai sekarang beli Pertamax Col… Pendukung Jokowi kok bernyali kecil. Harga BBM naik saja bingung sendiri. Itu kan karena pemerintah sebelumnya salah urus).

Benar juga, karena harga Pertamax sebagai BBM non subsidi harganya mengikuti pasar. Mulai saat itu, berkat semacam tausiyah Bro Totok, sebelum harga BBM bersubsidi naik, saya pun membiasakan diri beli Pertamax. Pendukung Jokowi, gitu loh… Motor boleh tahun tua, bahan bakarnya, Pertamax bro… Daripada punya mobil bagus masih bergantung pada BBM bersubsidi. Hihihi… (malu 🙈).

Jadilah status BBM (Blackberry Messenger) waktu itu menjadi “CB-ku ‘darah biru’ keturunan Raja Mataram.” Makna darah biru tidak lain karena berbahan bakar Pertamax yang berwarna biru. Keturunan Raja Mataram sebagai kata-kata motivasi saja, supaya sebagai pendukung Jokowi tidak nyremimih. Punya mental pemberani menghadapi perubahan sebagai keniscayaan.

Dengan terbiasa membeli BBM non subsidi akhirnya menjadi tidak perlu galau level Anak Baru Gede (ABG) ketika dengar harga BBM naik. Hingga akhirnya pembaca perlu kembali ke Pujowinatan untuk menyimak kisah selanjutnya.

Secara mengejutkan, Bro Totok hari itu menurunkan surah dan kitab baru -Surah Tanda Nomor Kendaraan dan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor maksudnya. Hal ini mengagetkan karena motor yang dipilih adalah jenis motor boros bahan bakar. Kebanyakan orang lebih suka motor irit bahan bakar, ini malah motor boros. Sudah boros masih mengkonsumsi olie samping pula. Maklum namanya juga motor berasap.

Sejatinya bukan itu yang jadi poin. Alasan dibaliknyalah yang pantas dijadikan cerita. Telisik punya telisik motor sport tua keluaran logo garputala itu merupakan motor impian. Ketika Yamaha RXZ tengah jaya-jayanya, Bro Totok belum bisa meminang. Setelah era baru datang, motor impian bisa diboyong ke Pujowinatan. Sebuah impian kesumat akhirnya dituntaskan pada era Jokowi.

Yang membanggakan, tumbuhnya keberanian Bro Totok mewujudkan impian kesumat tersebut adalah Presiden Jokowi. Terdengar tidak logis sih, tapi itulah kenyataan. Jokowi benar-benar bikin gara-gara suatu impian yang lama terpendam bisa muncul lagi ke permukaan. Sebuah impian kesumat pun kembali menggeliat berkat pemerintahan Jokowi.

Bahan bakar sedikit lebih boros tak mengapa, karena pemerintahan Jokowi diyakini membawa perubahan. Apalagi motor sport 135cc itu bisa diandalkan bagi para pemuja kecepatan. Cocok sudah dengan spirit kerja Jokowi yang ingin percepatan infra struktur hingga pelosok negeri. Menyadari hal ini Bro Totok lalu berkata,”Untuk mendukung Pak Jokowi, surah RXZ perlu diturunkan Pak Zet…” Dari sinilah kisah motor berhijab yang berasap pun dimulai.

Benarlah. Setelah ditimbang-timbang, mantap juga motor sport 6 speed 135cc berlogo garputala itu. Apalagi ketika Bro Totok presentasi tentang penampakan motor sport yang sejatinya bergenre motor sholehah karena mengenakan hijab. Seolah mendapat amunisi untuk promosi, Bro Totok pun menunjukkan kembaran RXZ yakni RZR. Benar-benar kelihatan lebih gamis penampakannya berkat full fairing alias hijab yang super brukut.

Siapa tidak tergoda coba? Motor sport 6 speed yang tentu cepat, masih berhijab pula. Rasa cinta pada motor berhijab yang berasap ini pun akhirnya jatuh. Meleleh lah hati ini bro…

Setelah turut berburu dan mendapatkan kuda besi tua berdapur pacu 135cc pada tahun lalu, resmilah diri ini menjadi sang pecinta motor berhijab yang berasap. Anehnya, keberanian meminang motor berhijab itu akibat konsistensi mendukung Jokowi. Demi kebijakan yang pro kemajuan bangsa, menuju Indonesia hebat, BBM mau naik silahkan saja. Apalagi itu mengikuti irama pasar. Keberanian perlu ditunjukkan dengan pergi ke pom bensin membawa motor boros bahan bakar.

Gara-gara Jokowi, tumbuhlah cinta untuk motor berhijab yang berasap. Gara-gara Jokowi impian kesumat yang telah jadi urusan hati dan lama terkubur, kini bangkit lagi. Efek Jokowi benar-benar terasa.

Pantat truk yang mengangkat romantisme rezim Soeharto segera terbantahkan secara elegan. “Piye kabare Bro… penak jamanku, to?” Jawab terhadap romantisme itu pun jelas. “Tidak!” Pada zaman Soeharto lihat pesona RXZ hanya bisa ngowoh bin ndomblong, sedangkan zaman Jokowi RXZ bisa dimiliki dan dikendarai ke sana kemari.

Lebih asyik lagi, untuk membeli BBM juga tidak lagi manja. Mau harga naik atau turun tetap asyik-asyik saja. Demo berbayar dengan alasan kenaikan BBM sudah menjadi basi. Politisi suka huru-hara akhirnya hanya bisa nyinyir level Fadli Zon atau Fahri Hamzah -pilih satu saja. Kalau nyinyirnya menggabungkan keduanya bisa-bisa kena amuk Raisa dan Isyana.

Pencabutan subsidi BBM jelas mengubah mental dan budaya politik. Mental nyari untung dengan memanfaatkan isu kenaikan BBM hingga kejahatan menimbun BBM jelas tak relevan lagi. Para penjahat rakyat si penimbun BBM bersubsidi tak bisa lagi unjuk gigi. Para politisi busuk yang hanya bisa nyocot dengan mulut berotot tak lagi bisa songong dengan isu kenaikan BBM.

Cinta pada motor berhijab yang berasap pun menjadi simbol perlawanan terhadap politisi busuk yang minta diasapi dari pantat knalpot. Cinta pada motor berhijab yang berasap tidak sekedar jadi urusan hati karena juga menawarkan perubahan paradigma. Mental kamisekengen, sebuah budaya latah serba salahkan pemerintah harus diubah dengan mental pemberani mendukung pemerintah yang sah dan berpihak pada keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. #JokowiUntukIndonesia



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply