India Sadis, Paspor Zakir Naik Siap Dicabut, Kapan Giliran Tersangka Rizieq?


Pemerintah India akan segera mencabut paspor milik Zakir Naik, seorang katanya ulama, yang memiliki pemikiran agak radikal, karena terkait dugaan terorisme dan pencucian uang. Langkah ini diambil oleh Biro Investigasi Nasional (National Investigation Agency), karena Zakir Naik yang merupakan pemimpin Yayasan Riset Islam (Islamic Research Foundation) dianggap melarikan diri keluar negeri dan mangkir dari pemeriksaan terkait dugaan terorisme dan pencucian uang.

Menurut berbagai sumber, Zakir Naik saat ini kemungkinan besar berada di Malaysia untuk memohon status kewarganegaraan di negeri tersebut. Membandingkan antara Zakir Naik dengan Rizieq, tentu kesamaan begitu banyak dimiliki oleh mereka berdua. Sebelas duabelas dengan Zakir, Rizieq pun sekarang sedang berurusan dengan kepolisian, yang dikabarkan juga akan mencabut paspor.

Hal ini memang belum pasti dilakukan oleh pihak kepolisian yang berkait dengan imigrasi. Namun bukan hal yang tidak mungkin Rizieq akan dicabut paspornya, karena mangkir dari panggilan kepolisian terkait kasus ‘baladacintarizieq’. Keputusan pencabutan paspor Zakir naik diambil beberapa minggu setelah NIA meminta international police (interpol) untuk menerbitkan kartu merah alias ‘red notice’ untuk Zakir Naik.

Pada bulan November 2016, Kementerian Dalam Negeri India mendaftar kasus kriminal terhadap Zakir Naik di India. Pencucian uang dan dugaan terorisme menjadi kasus yang menjerat Zakir Naik. Ia juga dituduh menyebarkan suara kebencian dalam khotbah-khotbahnya, mendanai terorisme dan pencucian uang.

Pemerintah India pun sudah memboikot stasiun televisi milik Zakir Naik. Zakir Naik sudah meninggalkan India pada 13 Mei 2016, dan sampai sekarang tidak pernah menginjakkan kembali tanah airnya, India. Apakah lantas Zakir naik dianggap sebagai pahlawan bagi para pengikutnya, selayaknya Rizieq dianggap ‘dewa’ oleh para pengikutnya?

Pengikut Rizieq dan Zakir pun memiliki karakter yang serupa. Mereka adalah sekawanan laskar yang tidak terlalu memiliki logika berpikir yang benar. Setiap kalimat yang diucapkan oleh pimpinannya, merupakan kalimat kebenaran bagi para pengikutnya.

Kita tahu bahwa Rizieq Shihab adalah seorang yang dianggap ulama, yang juga sekarang sedang tidak berada di tanah airnya, Indonesia. RIzieq sekarang berada di Arab, dan memohon visa unlimited yang tidak masuk akal, menurut Kapitera Ampera, kuasa hukum Rizieq Shihab. Hidup Rizieq sekarang sedang berada di ujung tanduk.

Banyak para pengikut Rizieq, rasanya hampir semua, menganggap Rizieq adalah seorang ulama yang sedang dikerjai oleh polisi. ‘Kriminalisasi ulama’ menjadi sebuah kalimat yang dikeluarkan oleh para pengikut, untuk membangkitkan simpati umat Islam kepada RIzieq, dan membangkitkan rasa antipati umat Islam kepada kepolisian.

Hal ini sudah dibantah jelas oleh pihak kepolisian. Hal ini sudah saya bahas di artikel ini: https://seword.com/sosbud/tito-keren-bantah-fitnah-kriminalisasi-ulama-sim-keliling-di-pondok-pesantren/

Rasanya isu kriminalisasi ulama merupakan hal yang terlalu dibuat-buat oleh para pengikutnya. Mengapa para pengikut Rizieq masih menganggap dirinya ulama, padahal ia sudah keluar masuk penjara pada tahun 2003 dan 2008, di dua era presiden berbeda. Mereka membuat tagar atau hashtag #kamibersamaHRS, #saveUlama, #saveFPI, dan lain-lain.

Mengapa mereka melakukan hal itu? Tentu lagi-lagi untuk membangkitkan simpati untuk Rizieq. Para pengikut bahkan mengatakan bahwa kasus sex chat yang menjebak Rizieq, merupakan hoax dan bikinan oleh oknum kepolisian. Beredar kabar burung yang sangat ‘burung’, mengatakan penyebar sex chat tersebut tinggal di Pejaten.

Kabar burung yang sangat ‘burung’ tersebut menjadi bentuk ejakulasi para laskar untuk menghibur diri dan menghibur Rizieq dari status tersangka yang sudah ditetapkan oleh pihak kepolisian. Bahkan ketika dunia medsos dihebohkan dengan anggota FPI yang bertato perempuan bugil, seketika itu pula tato dihalalkan. Rasanya ada pemikiran yang salah di logika dan pola pikir mereka. Para laskar tersebut memang sulit berpikir panjang.

Kemungkinan besar kerusakan otak semacam ini diakibatkan karena dari dini, mereka sudah dicekoki oleh pemikiran-pemikiran radikal, sekaligus diindoktrinasi dengan pandangan bahwa ‘ulama tidak pernah salah’. Pemahaman-pemahaman radikal yang juga anti Pancasila dibiarkan berkembang begitu saja selama bertahun-tahun. Maka hari ini dan akhir-akhir ini, kita sedang memetik buah pahit dari bibit radikal dan terorisme yang diajarkan di rumah-rumah agama.

Inilah yang harus segera ditanggulangi. Pihak pemerintah khususnya kepolisian bekerjasama dengan imigrasi harus segera menindaklanjuti kasus hukum yang menjerat Rizieq. Tentu kita tidak ingin melihat hukum di Indonesia dengan mudah dipermainkan oleh bekas narapidana yang sudah dua kali dipenjara, Rizieq Shihab.

Betul kan yang saya katakan?

Jika pembaca ingin melihat dan menikmati buah pemikiran saya yang lainnya, silakan klik link berikut:

https://seword.com/author/hans-sebastian/



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply