Kemenangan Pancasila VS Islam Radikal, Roh Suci Nusantara di Bulan Suci Ramadhan


Kesucian dan limpahan pahala dibulan suci Ramadhan menjadi perjuangan untuk mendapatkan ke-Fitrah-an, dimana kembali kedalam kondisi suci seperti lahir pada saat hari kemenangan nanti, Idul Fitri. Mencoba mengembalikan kesucian roh bangsa Indonesia yakni Pancasila ditengah ancaman hendak “meng-Islamkan” Pancasila dengan fenomena gerakan penentang Pancasila sebagai Ideologi dan roh suci bangsa Indonesia dengan adanya gerakan memperjuangkan gagasan khilafah yang dianut oleh ISIS dan beberapa ormas radikal Islam di Indonesia.

Ketika kerap kali mempertanyakan kesaktian Pancasila dengan maksud terus menggaungkan pertentangan guna memasuki pikiran dengan aneka pertanyaan mengenai Pancasila sebagai ideology banga Indonesia yang sudah menjadi ketetapan aturan perundang-undangan adalah bentuk pemberontakan terhadap keutuhan bangsa Indonesia. Dari hasil survey SMRC, Saiful Mujani Reaserch and Consulting menguraikan bahwa 89,3 % rakyat Indonesia menganggap ISIS dengan kekhilafaannya adalah ancaman pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dan menyatakan 92,9 % menyatakan ideology ini (kekhilafaan), ISIS tidak boleh hidup di Indonesia.

Kesucian bulan ramadhan dengan memerangi ideology sesat golongan utopis kekhilafaan yang hendak  merusak tatanan berbangsa Indonesia selayaknya dilakukan dengan semangat kebersamaan dengan niat mengembalikan kesucian roh Pancasila kedalam setiap jiwa masyarakat Indonesia.

Bulan suci ini yang kelak akan melahirkan kesucian umat dihari kemenangan, Idul Fitri, haruslah menjadi semangat untuk memperjuangkan kesucian Pancasila sebagai ideology dan roh suci bangsa Indonesia, jika ada yang tidak setuju ya….gebuk saja…”ujar Jokowi”. Perjuangan suci ini harus lah dilakukan disetiap lapisan guna menangkal dan memerangi setiap golongan dan individu yang memusuhi Pancasila dengan niat menghapus atau  meng-Islamkan Pancasila.

Menumbuhkan tingkat kritis dan menghancurkan kepatuhan “buta” terhadap tokoh agama guna mewaraskan pemikiran yang saat ini menjadi ancaman harus dilakukan, pendekatan hukum dan sosial budaya serta agama. Budaya diskusi yang hendak dihancurkan dan menjadikan sebuah budaya kepatuhan “buta” terhadap tokoh agama  dengan membudayakan, apa saja yang dikatakan tokoh agama adalah kebenaran mutlak dengan dalih “aneh-aneh” yang menyatakan tokoh agama tersebut adalah keturunan nabi, sudah memiliki kavling surga sehingga harus mutlak ditaati adalah usaha mereka untuk menggeser akal sehat dan mendapatkan dukungan dari minimnya pengetahuan agama dari para pendukungnya.

Sebagian dari golongan yang hendak meng ISIS kan Indonesia dengan ideologi khilafahnya sebagian besar adalah yang berniat untuk mendapatkan kekuasaan semata (pilpres 2019) dengan memanfaatkan gelombang transnasional tersebut yakni partai PK.., dan Gerindr..yang hendak mencalonkan si Wowo  kembali sebagai warisan rejim Orba.

Berdiskusi dengan semangat keaneragaman membahas apa yang hendak dilakukan untuk membuktikan kecintaan terhadap roh suci Pancasila menjadi perjuangan tersendiri ditengah aneka ujian kesabaran di bulan suci ini. Bersama-sama dengan kalangan mahasiswa membahas dan berdiskusi sambil menunggu bedug magrib saat berbuka puasa menjadi niat untuk “jihad” agar keamanan dan ketentraman masyarakat Indonesia dijauhi dari segala macam tindakan pengacau tatanan sehingga tetap dapat beribadah dan menunaikan segala kewajiban kepada sang Maha Pencipta dengan tenang tanpa harus melewati segala ancaman dan kehancuran peperangan seperti suriah.

 

Tanggapan dari acara diskusi “Landasaan Idiil Goyah, Apa Kabar Pancasila ?” yang diadakan di Institut Teknologi Indonesia mendapatkan berbagai macam dari ucapan “salut” atas acara tersebut hingga tanggapan sinis dari pengambilan judul  dan  justru menjadi topic bahasan yang terkesan meremehkan semangat positif generasi muda dan hendak mengaburkan topik diskusi dari semangat kepedulian dan memelihara kewarasan berpikir yang kini tengah terancam dengan kepatuhan “buta” tokoh agama. Dan lalu mentertawakan seakan “kecerdasan” dan berbagai pencapaian mereka terkesan  berhak dan “halal” untuk merendahkan semangat untuk mempertahankan kewarasan dari kesucian roh Pancasila, entah apakah mereka memang yang termasuk hendak meng-Islam-kan Pancasila ataukah mereka termasuk golongan utopis kekhilafaan radikalisme Islam (ISIS dan sejenisnya).

Era perang terbuka terhadap mereka yang hendak meng-ISIS-kan Pancasila haruslah segera ditangkal dengan semangat roh pancasila dibulan yang Ramadhan yang suci ini dengan terus membudayakan budaya baik, berucap, mendengar dan bertukar pikiran dan bekerja serta berkarya seraya membuktikan kecintaan terhadap Pancasila agar tercapai masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan…amin.

Kupersembahkan karya terbaikku untuk Pancasila..!!

 

#ArtiRamadhan



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply