Memulai Kembali – Bagian 2


Semua orang tahu Piper menyukai fotografi jika mereka memasuki kamar gadis tersebut. Dinding kamarnya dipenuhi oleh gantungan foto polaroid akan ia, keluarganya, dan teman-temannya. Piper memandangi mereka satu persatu dari tempat tidurnya dengan kedua kaki tersilang. Di sebelah tempat tidurnya terdapat meja belajar yang juga dihiasi oleh banyak figura foto. Ada foto Jay yang sedang digendong Papa, foto Mama sedang tertawa bersama Jonathan, foto Piper dengan teman sekelasnya di SMA, dan lainnya. Piper tersenyum melihatnya.

Tetapi senyumnya pudar ketika ia sadar kebahagian di foto itu telah sirna. Semenjak Piper pergi, Pamela berkata keadaan rumah memanas. Jay selalu pergi bertanding sepak bola, sementara Pamela sibuk dengan kuliahnya, sehingga tidak ada yang menengahi jika Mama dan Papa berdebat. Awalnya hanya karena Papa tidak pernah setuju Piper pergi kuliah di Inggris, namun Mama mendukung seratus persen. Namun lama-lama setiap perbedaan pendapat menjadi bahan perdebatan bagi Mama dan Papa.

Piper, entah kenapa, merasa bertanggung jawab. Bagaimana juga, ia adalah topik perdebatan awal Mama dan Papa. Kalau saja ia menuruti kata Papa dan berkuliah di Jakarta, mungkin semua ini tidak akan terjadi.

Gadis tersebut menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir pikiran itu. Nasi sudah menjadi bubur, kata orang. Hal terakhir yang Piper butuhkan sekarang adalah negativitas. Ia seharusnya merasa senang bisa berkumpul bersama keluarganya lagi dengan tambahan anggota baru, yaitu Irene. Tapi perasaan tidak bisa dimanipulasi, dan secuil bagian dari akal sehatnya tahu bahwa ia seharusnya tidak pulang ke Indonesia. Ia seharusnya tinggal saja Inggris dan kabur dari semua masalahnya seperti seorang pengecut. Sebab memang itulah dirinya yang asli; seorang pengecut.

Piper mengalihkan pandangannya dan melihat foto-foto ia dan saudara kandungnya. Namun perhatiannya teralihkan oleh satu foto yang gadis itu tak ingin lihat. Di tengah dinding kamarnya, foto akan dirinya dan mantan sahabatnya pada pesta kelulusan SMA dipajang. Piper mengenakan gaun biru dan sedang digendong oleh mantan sahabatnya sembari tersenyum ke arah kamera.

Ya, benar. Mantan sahabat. Mereka bertengkar hebat sebulan sebelum Piper melanjutkan studi di luar negeri. Dan setelah Piper pergi ke Inggris, mereka tidak pernah bertukar kata antara satu sama lain. Hati Piper seolah diremukkan perlahan-lahan, sebab pikirnya; hal itu tidak hanya terjadi pada mantan sahabatnya. Hal itu terjadi pada semua orang yang pernah ia kenal di kota ini. Piper menghilang bagai hantu ditelan bumi dan tak pernah kedengaran lagi kabarnya, bahkan oleh sebagian anggota keluarganya sendiri.

Gadis berambut sebahu itu meringis ketika gambaran akan wajah Daniel melintasi pikirannya. Ia seharusnya sudah tidak memikirkan mantan sahabatnya itu lagi. Ia seharusnya sudah melupakan pemuda itu di malam yang sama ketika ia terbang ke Inggris. Tapi kenapa sekarang Piper merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk ketika memikirkan Daniel?

Piper menghela nafas dan kembali berbaring di atas ranjangnya. Matanya terasa panas dan tenggorokannya seperti tercekat. Kenapa, sih, dia emosional sekali? “Bodoh, bodoh, bodoh!” gumamnya pada diri sendiri. Kemudian ia berbaring pada satu sisi tubuhnya dan memandang lurus ke arah foto akan dirinya dan Daniel. Gadis itu menutup matanya dan menghitung dari satu sampai tiga, berharap foto tersebut hanya sebatas khayalannya dan tidak benar-benar nyata. Tetapi ketika ia membuka matanya, foto itu masih di sana, terpampang jelas seakan tengah mengejeknya.

Kalau saja aku nggak pergi, batinnya. Mungkin Daniel masih bisa jadi sahabatku.

Maka gadis itu memejamkan matanya rapat-rapat dan mengingat malam sebelum hubungan ia dan Daniel menjadi berantakan.

9 Juli 2013.

Malam itu adalah kelulusan SMA-nya Piper. Lagu sendu diputar dan beberapa pasangan berdansa pelan di lantai dansa. Lampu sorot biru dan putih menari-nari ke sana dan kemari. Piper dan Daniel duduk di sudut ruangan sebab mereka tidak ingin berdansa. 

Seorang jurnalis sekolah menghampiri mereka dengan sebuah kamera di tangannya. “Hei, Piper. Hei, Daniel. Keberatan, nggak, kalau aku memfoto kalian berdua? Cuma buat dokumentasi buku tahunan, kok,” pintanya.

“Oke,” jawab Piper. “Tapi aku nggak mau pose yang formal, ya. Ngebosenin!”

Sang jurnalis tersenyum simpul. “Terserah, kok, gayanya mau bagaimana,” balasnya sembari mengangkat kameranya sehingga sejajar dengan wajahnya.

“Memangnya kita mau gaya kayak apa?” tanya Daniel dengan satu alis terangkat. Di bawah sorotan lampu sorot, mata cokelat pemuda itu berkilat-kilat. “Jangan yang aneh-aneh, dong.”

“Yang bener aja, Daniel?” Piper balas bertanya, lalu meninju lengan Daniel. “Kamu udah kenal aku tiga tahun dan masih minta supaya aku jangan aneh-aneh? Kamu kayak nggak kenal aku aja, sih.”

Sontak, Piper melompat ke atas punggung Daniel dan pemuda itu setengah terhuyung ke belakang. “Senyum yang lebar, ya!” seru sang jurnalis, menjepret foto tepat ketika Daniel melihat ke arah lensa kamera dengan mulut yang membentuk huruf ‘O’ sempurna dan mata yang membelalak. 

“Boleh lihat hasilnya, nggak?” pinta Piper. Sang jurnalis mencondongkan tubuhnya ke arah Piper dan menunjukkan hasilnya. Sebuah cengiran nakal muncul di wajah gadis tersebut setelah ia melihatnya. “Wow, Dan, aku nggak nyangka mata kamu bisa melotot sebesar itu.”

Daniel merebut kameranya dan memasang ekspresi sebal sehabis melihat dirinya sendiri di foto tersebut. Pemuda itu menoleh ke arah sang jurnalis dan berujar, “Tolong yang satu itu jangan dimuat di buku tahunan.”

Piper terkekeh bersama sang jurnalis. “Maaf, bung. Foto ini terlalu berharga. Sayang kalau nggak dimuat,” tanggap jurnalis tersebut.

“Aku boleh minta soft copy-nya, nggak?” tanya Piper, lalu mengedipkan matanya pada Daniel dengan iseng. “Buat kenang-kenangan.”

“Iya, boleh, kok. Nanti aku kirim lewat surel, ya,” jawab sang jurnalis, lalu melangkah pergi, masih setengah cekikikan melihat layar tampilan di kameranya.

“Kamu bercanda, ya, Piper? Tadi itu foto terakhir kita sebagai siswa SMA dan kamu memilih pose itu,” celetuk Daniel. Ia menelengkan kepalanya sedikit ke kiri. Piper bisa melihat senyum tipis pemuda itu meski penerangan di aula tersebut sedikit redup. 

Gadis itu menyengir. “Suatu momen pantas dikenang kalau momennya berkesan,” ungkap Piper. “Dan melihat ekspresi wajah kamu yang kayak gitu pastinya berkesan banget buatku. Bakalan aku pajang nanti.”

Daniel memutar kedua bola matanya. “Tolong, deh. Foto kita berdua di dinding kamarmu udah banyak banget, dan jauh lebih bagus juga daripada yang ini.”

“Siapa bilang foto ini bakal kupajang di dinding kamarku?” Piper mencibir.

Sahabat gadis tersebut menatapnya dengan ekspresi kaget yang didramatisir. “Oh, jadi aku udah nggak pantes lagi buat dipajang fotonya di dinding kamarmu?!”

“Iya, udah nggak pantes,” canda Piper. “Nanti aku cabut aja semua foto kamu dari dinding kamarku.”

Daniel tertawa kecil. “Wah, sayang banget,” tanggapnya sembari mengangkat kedua bahunya. “Kita nggak bakal punya memori bersama lagi.” Tepat setelah pemuda itu selesai berbicara, lagu sendu yang dimainkan diganti oleh lagu pop rock tahun 80an.

Piper memutar kepalanya cepat ke arah lantai dansa. Ketika ia kembali menoleh ke arah Daniel, ia memasang tampang menantang di wajahnya. “Siapa bilang memori cuma bisa datang dari selembar dua lembar foto?” tanya gadis tersebut.

Seperti bisa membaca pikiran sahabatnya, Daniel menyodorkan tangannya dan membungkuk. “Maukah kamu berdansa untuk yang terakhir kalinya sebagai murid SMA bersama sahabatmu yang sudah nggak lagi pantas dipajang fotonya di dinding kamarmu?” pinta pemuda tersebut.

“Dengan senang hati.” Piper membalas sodoran tangan Daniel. Lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju lantai dansa. Sepanjang malam, mereka menari. Mereka menari hingga kaki mereka sakit, mereka menari hingga Piper melepas sepatu hak tingginya, mereka menari hingga orang-orang meninggalkan lantai dansa dan hanya mereka yang tersisa. 

Empat tahun yang lalu, Piper mungkin belum sadar. Namun sekarang, berbaring di atas ranjangnya sembari menutup mata dan memegangi kepalanya dengan satu kepala, Piper menyadari satu hal penting. Mereka tidak hanya menari sampai pegal-pegal. Tetapi mereka juga menari sampai Piper sadar bahwa ia menyayangi Daniel lebih dari teman. Dan empat tahun kemudian, sialnya perasaan itu belum hilang.



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply