Menggelikan, Bantah Ancam Jaksa Yulianto, HT Mengaku Hanya Masyarakat Biasa


Ketua Umum Perindo yang juga adalah seorang pengusaha tajir pemilik MNC Group, Hary Tanoesoedibjo, dipanggil ke Bareskrim Polri untuk diperiksa sebagai saksi terlapor atas kasus dugaan SMS mengancam jaksa Yulianto. Hary Tanoe dipanggil untuk memberikan penjelasan terkait SMS yang dianggap berisi ancaman tersebut.

Berikut adalah SMS yang dikirimkan oleh hary Tanoe kepada Jaksa Yulianto..

Kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar siapa yang profesional dan siapa yang preman Anda harus ingat kuasa itu tidak akan langgeng. Saya masuk politik karena ingin membuat Indonesia maju dalam arti yang sesungguhnya termasuk penegakan hukum yang profesional tidak transaksional tidak bertindak semena-mena demi popularitas dan abuse of power. Saya akan jadi pimpinan negeri ini di situlah saatnya Indonesia akan berubah dan dibersihkan dari hal-hal yang tidak sebagaimana mestinya kasihan rakyat yang miskin makin banyak sementara negara lain berkembang dan semakin maju,”

Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman.”.

Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena mena, yang transaksiaonal yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situ lah saatnya Indonesia dibersihkan“.

Hary Tanoe membantah bahwa SMS yang dikirimkannya tersebut adalah sebuah ancaman kepada jaksa Yulianto terkait kasus Mobile 8. Menurut Hary, SMS tersebut tidak ada sedikit pun bernada ancaman. Hary Tanoe menjelaskan bahwa SMS itu adalah bentuk komitmennya ingin berkontribusi terhadap kemajuan Indonesia.

Dia mengirim SMS tersebut karena dikait-kaitkan dengan kasus mobile 8. Hary Tanoe merasa perlu memberikan penjelasan bahwa kasus tersebut tidak relevan dengan dirinya. Merasa tindakannya mengirim SMS kepada Jaksa Yulianto tersebut tidak salah, Hary Tanoe malah menyatakan bahwa SMS yang dikirimnya merupakan komitmennya memberantas penegak hukum yang semena mena.

Entah sadar atau tidak, penjelasan Hary Tanoe ini malah menimbulkan keganjilan. Bagaimana tidak ganjil, apa hubungannya kasus yang dikaitkan dengannya, lalu keinginannya dengan masuk politik untuk memberantas penegak hukum yang semena-mena, selain ini merupakan ancaman. Memangnya bagi seorang Jaksa begitu perlu dan penting mendengar visi misinya masuk politik??

Secara normal saja, apa yang kita rasakan ketika menerima SMS seperti ini?? Merasa ini adalah ancaman?? atau orang sedang ingin cerita visi misinya masuk dalam politik?? Belum lagi SMS ini terkait pemberantasan penegak hukum yang semena-mena dan dikirim kepada kita yang adalah penegak hukum. Bukankah itu sebuah ancaman??

Dalam pernyataannya sendiri setelah diperiksa, nampak sekali terlihat Hary Tanoe tidak tenang saat memberikan penjelasan. Saat saya menyaksikan di Global TV, Hary Tanoe terus bergerak ke kanan dan ke kiri seperti orang yang gelisah. Gelisah karena mungkin saja dia menyadari penjelasannya aneh dan tidak masuk akal. tetapi karena harus membantah yah dibuat saja seadanya.

Yang paling parah adalah pernyataan terakhir Hary Tanoe yang menyatakan dirinya tidak mungkin melakukan intervensi karena tidak punya kekuasaan untuk melakukan hal tersebut. Bahkan Hary tanoe demi memperkuat bantahannya tersebut menyebut dirinya masyarakat biasa.

“Kalau disampaikan saya intervensi, tidak betul juga. Saya tidak punya kapasitas untuk intervensi. Kalau saya pejabat, saya punya kekuasaan, saya punya saya pegang power, itu bisa dikatakan intervensi. Saya siapa, saya masyarakat biasa seperti kalian,” tukas Hary Tanoe menjawab pertanyaan wartawan.

Hary Tanoe seperti menganggap wartawan dan orang Indonesia ini seperti orang bodoh. menyebut dirinya masyarakat biasa sepertinya tidaklah relevan. Hary Tanoe bukanlah masyarakat biasa. Dia adalah seorang pengusaha tajir dan juga seorang politisi. Apa iya ada seorang masyarakat biasa model hary Tanoe??

Hary Tanoe sendiri pernah disinggung oleh mantan Ketua KPK, antasari azhar, sebagai penghubung Presiden SBY pada saat itu terkait kasus besan SBY, Aulia Pohan. Bahkan menurut Antasari, Hary Tanoe saat itu meminta Antasari untuk tidak menahan Aulia Pohan.

Sebagai politisi, Hary tanoe ini pernah juga muncul mukanya dalam kampanye di Pemilu 2014 sebagai pasangan Wiranto dengan tagline mereka, Win-HT. Bahkan Hary tanoe sudah malang melintang bukan hanya di Hanura, tetapi juga pernah di Nasdem. Kini malah punya partai sendiri.

Aneh rasanya kalau Hary tanoe mengaku dirinya masyarakat biasa. Para lawan politiknya pasti tertawa ngakan dan tersenyum sinis melihat bantahan tidak berkelas yang disampaikan oleh Hary Tanoe. Bagi orang-orang yang tahu pergerakan Hary Tanoe di politik, pasti tahu betul dia bisa melakukan intervensi. kalau tidak, bagaimana mungkin dia berani SMS Jaksa Yulianto.

Intervensi dan ancaman terhadap Jaksa Yulianto menurut saya benar adanya. Tanpa perlu menggali dengan lebih mendalam isi SMS tersebut, keberanian Hary Tanoe yang mengirim SMS saja sudah menjadi bentuk usaha mengintervensi dan memberikan ancaman. Kecuali Hary Tanoe mengirimkan surat cinta. hehehe..

Inilah repotnya kalau orang yang dulunya dekat dengan kekuasaan dan menurut pengakuan Antasari menjadi perantara bagi SBY. Kalau sudah kena kasus baru mengaku jadi masyarakat biasa. Ketua Umum Partai kok mengaku masyarakat biasa, Payah.

Salam Masyarakat Biasa.



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply