Pak Jokowi, Saya Tidak Menikmati Pembangunanmu Terhadap Indonesia


http://www.rappler.com/indonesia/109938-nyanyi-sunyi-nawa-cita-setahun-jokowi-jk

Sumber: Rappler.com

Penulis tidak menikmati KIS, KIP, pembangunan jalan tol di Jawa dan Sumatera, pembangunan trans Papua, trans Kalimantan, pemerataan harga BBM di pelosok negeri dengan di pusat, pengaliran listrik ke penjuru Indonesia.

Penulis yakin, melihat judul tulisan ini, yang pro pemerintah akan langsung mengernyitkan dahi, sementara yang selalu kontra atau nyinyir terhadap pemerintah akan tersenyum simpul, sambil berkata, “Nah kan, aku bilang juga apa!”. Tetapi tunggu dulu. Jangan terlalu mudah bereaksi seperti sumbu pendek pentol korek.

Apakah dengan tidak menikmati pembangunan era pemerintahan Jokowi lantas lalu saya menafikan pencapaian-pencapaiannya? Apakah karena saya dapat konsekuensi logis yang tidak mengenakkan itu lalu saya mencaci pemerintahan dan beralih melawannya? Tidak.

Kita harus memahami konsep pembangunan bangsa ini. Kita harus mengesampingkan egosentrisme kita ketik harus melihat secara menyeluruh pembangunan pemerintah baik dulu maupun sekarang. Agar penilaian kita tidak melulu saya untung atau tidak, tetapi apakah pembangunan itu berdampak positif bagi kemajuan bangsa atau tidak.

Pembangunan untuk siapa?

Infrastruktur daerah tertinggal

Penulis tentu tidak akan menikmati pembangunan jalan Trans Papua ribuan kilometer sebab penulis belum pernah ke tempat itu. Tetapi bagi masyarakat Papua yang selama ini tidak pernah merasakan pembangunan infrastruktur semasif sekarang, yang akan mempersingkat waktu distribusi sembako dan barang lainnya sehingga menurunkan harga barang, mereka akan merasa diperhatikan, merasa masih dianggap sebagai putra dan putri bangsa Indonesia. Dan penulis yakin, mereka akan bersyukur kepada Tuhan karena telah menjadikan Jokowi sebagai presiden.

Bukan hanya infrastruktur jalan saja, harga BBM di Papua sudah sama dengan harga BBM di Jawa. Itu artinya mereka sudah dapat mengalokasikan uang mereka yang selama ini digunakan untuk membeli BBM ke kebutuhan lain. Selain itu, harga barang juga pasti lambat laun akan turun. Harga BBM dan infrastruktur sangat menentukan harga barang di suatu daerah, termasuk di Papua.

Belum lagi akhir-akhir ini PLN sedang mengupayakan penerangan terhadap daerah-daerah terpencil di Papua yang belum dialiri listrik, berdasarkan instruksi dari presiden. Bisa Anda bayangkan hidup di daerah yang jalan rusak, BBM mahal, barang juga mahal, listrik juga tidak ada, apalagi pendidikan yang tidak merata? Hidup terasa berat dan menyiksa dibandingkan mereka yang ada di daerah yang segala sesuatunya sudah tersedia.

Penulis juga belum dapat menikmati pembangunan jalan yang membentang dari Kalimantan Utara sampai Kalimantan Barat di bagian perbatasan dengan Malaysia; pembangunan yang di pemerintahan sebelumnya bagaikan mimpi memeluk bidadari. Tetapi bagi penduduk perbatasan, pembangunan ini bagai rahmat berlimpah. Mereka tidak akan mengatakan, “Jangan hanya membangun fisik, tetapi manusianya juga harus dibangun.” Melainkan mereka akan (mungkin) menangis dan berkata, “Terima kasih, Pak Jokowi, Pak Menteri, TNI dan Indonesia!”

Sebab bagi mereka infrastruktur jalan sangat penting sebagai sarana untuk mendistribusikan hasil pertanian dan hasil-hasil yang lain kalau ada. Juga akan memudahkan pendistribusian barang dan jasa, tidak lagi mengandalkan negara tetangga. Mereka akan merasakan diperhatikan bukan lagi ditelantarkan. Mereka akan merasakan sungguh dicintai bukan hanya diperas sumber daya alam tanah kelahiran mereka.

Pembangunan infrastruktur daerah maju

Pembangunan tol-tol di Jawa dan Sumatera, yang sudah termasuk lebih maju dari daerah lain di Indonesia, adalah bentuk perhatian pemerintah terhadap perputaran roda perekonomian bangsa. Selain keuntungan jangka pendek melalui tenaga kerja, juga jangka panjang memangkas waktu tempuh pendistribusian barang dan jasa. Ketika musim mudik tiba, kemacetan di ruas-ruas tol akan mulai berkurang. Berkurang saja toh? Iyah. Kalau mau 100%, kamu yang pada komplain macet gak usah mudik, pasti gak macet, tong.

Bagi penulis dan yang lainnya, yang tidak merasakan secara langsung keuntungan pembangunan infrastruktur tol-tol ini mungkin kecewa, tetapi bagi pelaku bisnis pembangunan ini sangat menguntungkan. Sederhananya biaya distribusi barang akan semakin sedikit. Ketika biaya distribusi semakin sedikit dan sudah dapat dipastikan tidak akan meningkat, maka harga bahan pokok dan barang lainnya akan secara otomatis akan menurun atau setidaknya tidak semakin mahal. Cukup sederhana sebenarnya.

Pembangunan manusia Indonesia

Pendidikan salah satu aspek pembangunan manusia. Manusia terdidik adalah manusia unggul. Pemerintah menjawab pembangunan penting ini dengan KIP. Meski nominalnya tidak terlalu banyak, tetapi sangat membantu bagi keluarga-keluarga tak mampu. Mereka tidak perlu lagi mengkover keseluruhan biaya pendidikan anak-anak mereka.

Apakah semua mendapatkan? Tidak. Prinsip keadilan harus tetap dipertahankan. KIP adalah subsidi pemerintah. Dengan demikian mereka yang sanggup memenuhi biaya pendidikan anak-anak mereka secara mandiri tidak perlu mendapatkan KIP. Prinsip keadilan itu adalah memberi kepada yang membutuhkan bukan memberi ke semua, memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya.

Pembangunan manusia lainnya adalah kehadiran KIS. Selain menjamin kesehatan rakyatnya pemerintah sekaligus mendidik masyarakat untuk saling membantu satu dengan yang lainnya. Artinya mereka yang sehat membantu saudara sebangsa mereka yang sakit. KIS memang tidak gratis, tetapi jika Anda seorang yang kebetulan kurang beruntung mengidap penyakit yang penyembuhannya membutuhkan biaya yang cukup besar, maka Anda akan merasakan kegunaannya.

Sementara yang sehat tetap memberi perhatian kepada yang sakit setiap bulannya. Apakah pelayanannya tidak memuaskan atau tidak adalah persoalan yang masih harus diperbaiki. Bahwa tidak ada yang sempurna, bukan berarti tidak berbuat. Pemerintah sudah berusaha menjamin, tetapi bila masih ada persoalan-persoalan yang harus dibenahi adalah tugas kita Bersama. Dalam hal ini, jangan seperti benalu yang hanya menggantungkan hidup pada pemerintah.

KIS ini, menurut penulis, adalah ide yang sangat luar biasa, ide untuk mewujudkan gagasan gotong royong para pendahulu. Jokowi membumikan, mewujud nyatakan, dan mengaktualkan gotong royong. Jika pada masa silam kita mengira bahwa gotong royong hanya di RT dan di sawah, ternyata hari ini kita menemukannya dalam diri kita masing-masing.

Konsekuensi logis pembangunan Jokowi

Subsidi yang tidak perlu harus dicabut. Subsidi BBM, listrik dan BLT dicabut, dibuang saja ke laut. Tentu pencabutan ini untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur terutama daerah terluar Indonesia dan laut. Jadi subsidi yang sering kali hanya sesaat dijadikan membangun benteng pertahanan Indonesia untuk puluhan tahun ke depan.

Pencabutan subsidi yang tidak perlu ternyata berdampak bagi masyarakat yang lainnya. Masyarakat, yang selama ini mendapat subsidi BBM, baik yang kaya maupun mendapatkannya, pasti akan berontak. Demikian juga ketika subsidi listrik pelan-pelan dikurangi dan kemudian dicabut, banyak orang keberatan. Lambat laun masyarakat sadar bahwa pemerintah mengambil langkah yang tepat. Tidak ada lagi demo di depan istana untuk kenaikan BBM dan listrik. Karena mereka sadar bahwa subsidi selama ini lebih banyak dibuang di jalanan daripada dimanfaatkan.

Tetapi harus diterima juga bahwa proses yang demikian indah ini akan menjadi peluang empuk bagi lawan politik. Lawan politik Jokowi dan partai pro-pemerintah serta merta menggunakan kesempatan ini untuk menggembosi pemerintah. Mereka menyerang dengan isu pemerintah tidak pro-rakyat, pemerintahan sebelumnya lebih baik, dll. yang sangat keji dan jahat.

Pak Jokowi, saya tidak menikmati pembangunanmu terhadap Indonesia tidak apa-apa

Pak Jokowi, saya tidak menikmati pembangunanmu terhadap Indonesia, sebab Anda membangun daerah terluar dan yang terpinggirkan selama ini, serta di tempat-tempat di mana saya tidak berada atau belum pernah ke tempat itu. Tetapi tenang, saya tidak akan mencap bapak tidak peduli terhadap saya. Masih lebih banyak yang butuh perhatian dan kepedulian bapak dari pada saya pribadi.

Saya tidak menikmati program pembangunan Jokowi bukan berarti dia tidak membangun. Saya Indonesia, iya. Tetapi Indonesia itu bukan saya saja. Masih banyak Indonesia lainnya yang kepalanya tidak bisa tegak karena kemiskinan, yang tidak melihat terang di malam hari, yang harus lebih kuat dari kuda untuk mendapatkan makanan, yang tidak mendapatkan pendidikan yang memadai; tidak ada tas dan ruang kelas, yang selalu bertanya ‘Besok kita makan atau puasa seharian lagi?’ karena tidak ada makanan.

Jadi kalau ada yang nyinyir dan tidak mengakui program pembangunan Jokowi, serta yang tidak mengakui adanya pembangunan itu seperti Pigai, kaum sumbu pendek pentol korek, tidak perlu didengarkan. Sebab apa pun yang baik yang Jokowi bangun akan tetap tidak akan diakui. Mana mungkin iblis mengakui malaikat itu lebih baik dari dirinya.

 

Salam dari rakyat jelata



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply