Solusi Pendidikan Indonesia Bukan Kuantitas Tapi Kualitas


Ilustrasi Sekolah adalah Penjara (sumber:Rofalina.com)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia akan segera merealisasikan Peraturan Menteri (Permen) tentang sekolah lima hari yang populer dengan nama full day school. Siswa dan siswi dari jenjang SD, SMP dan SMA/SMK diwajibkan berada disekolah selama 8 jam lamanya. Dengan sistem tambahan jam per harinya maka Sabtu dan Minggu akan menjadi hari libur baik untuk guru maupun siswa siswinya.

Munculnya buah pemikiran Mendikbud Muhadjir Effendy ini merupakan bentuk perwujudan nawa cita pemerintah yang ingin penanaman pendidikan karakter porsinya lebih banyak dibandingkan pendidikan intelektual. Saya sangat setuju jika pemerintah serius dalam penanaman karakter anak didik sejak dini karena karakter suatu bangsa akan diwakili oleh sumber daya manusianya. Negara ini akan maju dan kuat jika semua warga negaranya mempunyai karakter nasionalisme dan solidaritas yang kuat.

Memang sudah kewajiban seorang menteri untuk bekerja sesuai dengan visi dan misi Presiden. Yang saya permasalahkan disini adalah implementasi dari visi dan misi menteri yang melahirkan kebijakan yang cukup kontroversial dan menurut saya kurang efektif jika melihat realita di lapangan. Saya rasa harusnya Mendikbud Muhajir dapat melihat realita di berbagai daerah di Indonesia karena saya sering membaca berita bahwa Mendikbud sering menemani Presiden Jokowi “blusukan” ke daerah – daerah.

Menurut hemat saya, kuantitas yaitu penambahan jam belajar di sekolah bukanlah solusi efektif untuk penanaman karakter selama masalah – masalah fundamental masih belum diatasi. Menurut saya setidaknya ada tiga masalah fundamental yang harus diselesaikan oleh pemerintah sehingga pendidikan karakter dan intelektual dapat dicapai.

Kualitas Guru

Guru adalah ‘orang tua’ kedua kita di sekolah karena mereka lah yang menjaga dan membimbing kita dalam belajar. Saya perlu tekankan disini bahwa belajar bukan hanya masalah menghafal rumus, mengerjakan soal atau mengumpulkan tugas. Fakta dilapangan adalah para guru sepertinya enggan mengajarkan nilai penting dari belajar yaitu belajar memaknai hidup ini dengan sikap yang baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat luas.

Seorang guru harus mempunyai kompetensi dalam bidang mata pelajaran yang dia ajarkan ke murid – muridnya. Fakta dilapangan adalah masih banyak guru yang mengajar dibidang yang bukanlah kompetensinya seperti lulusan sastra tapi mengajar Matematika. Bahkan masih ada guru yang sampai mengajar beberapa mata pelajaran sekaligus karena alasan kekurangan tenaga pengajar.

Walaupun sudah ada ujian sertifikasi guru dimana para guru akan diuji kompetensinya dalam bidang mata pelajaran yang diajarkan, bukanlah solusi atas masalah kompetensi guru. Ujian sertifikasi guru seakan hanya dijadikan ajang tolak ukur pemerintah dalam menilai kompetensi intelektual seorang guru. Saya mempunyai pengalaman sebagai seorang pelajar dimana ada guru saya yang kemampuan intelektualnya tinggi tapi beliau tidak mampu menyalurkan pengetahuan yang beliau punya kepada para murid – muridnya. Pada akhirnya kami semua pun tidak paham akan materi yang disampaikan.

Masalah selanjutnya adalah guru – guru yang ada di Indonesia seperti menjadikan mengajar adalah beban mereka tanpa mempunyai jiwa mendidik dan mengajar. Maaf jika saya berpendapat seperti itu tapi kenyataannya masih sangat banyak guru yang bertipe seperti itu. Mereka seakan ‘makan gaji buta’ tanpa memikirkan masa depan para muridnya. Masuk kelas, memberikan latihan dan memberi nilai tanpa ada penjelasan berarti yang bisa membuat para murid mengerti bahasan yang disampaikan.

Guru harus menanamkan karakter yang kuat pada anak didiknya. Jika alasan penambahan waktu disekolah untuk memberi ruang untuk para siswa dan siswi untuk mengikuti ekstrakurikuler sehingga karakter anak terbentuk maka semuanya akan sia – sia jika mental para guru belum dirubah. Bayangkan para guru yang tidak peduli dengan para anak didiknya akan membiarkan para anak didiknya bermain sesuka hati mereka tanpa arahan yang jelas. Ingat masih banyak sekali sekolah yang jumlah siswa siswinya per kelas bisa mencapai 40 siswa siswi dan ini terjadi di beberapa sekolah di daerah saya. Apakah seorang guru mampu menanamkan karakter yang kuat pada 40 siswa siswi melalui kegiatan ekstrakurikuler? Saya rasa tidak, 20 siswa siswi saja saya rasa guru akan kewalahan.

Guru adalah instrumen penting dalam keberhasilan pendidikan suatu negara. Saran saya adalah fokus dalam membimbing orang – orang yang berjiwa mendidik, berkompetensi dalam bidang akademik dan berkarakter kuat untuk menjadi guru. Dengan adanya tiga poin penting tersebut maka niscaya mereka akan menghasilkan murid berkarakter kuat dan pintar.

Fasilitas – fasilitas yang tidak memadai

Sekolah swasta yang mahal dan sekolah negeri unggulan mungkin tidak akan menemui kendala yang berarti dalam hal fasilitas pendidikan. Sekolah swasta dengan iuran bulanan yang mahal tentu akan dengan mudah memberikan fasilitas – fasilitas kelas atas. Sekolah negeri unggulan juga mampu mempunyai fasilitas kelas atas seperti halnya sekolah swasta karena adanya prioritas pembiayaan dari pemerintah. Bagaimana nasib sekolah – sekolah swasta dan negeri menengah?

Mendikbud mengatakan bahwa para murid tidak akan belajar didalam kelas selama 8 jam tapi para murid akan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang diminati para murid. Pertanyaannya adalah apa semua sekolah mampu memfasilitasi semua minat ekstrakurikuler muridnya. Ada yang mempunyai minat bernyanyi, menari, olaharaga dan lain sebagainya. Apakah sekolah mampu memfasilitasi semua minat murid yang berbeda – beda?

Apakah sekolah mampu menyediakan seorang guru olah vokal bagi muridnya yang mempunyai minat bernyanyi, lapangan yang memadai untuk muridnya yang gemar berolahraga, gedung kesenian yang luas untuk berlatih menari? Saya rasa tidak semua sekolah mampu apalagi kalau harus mengeluarkan biaya tambahan untuk itu semua. Para orang tua murid pastinya akan menjerit.

Partisipasi orang tua dalam mendidik anak

Diharapkan dengan adanya libur Sabtu dan Minggu maka para orang tua dapat menghabiskan waktu dengan anak – anak seperti ketempat wisata bersama dan menghabiskan waktu bersama, itulah salah satu tujuan pembentukan karakter Mendikbud. Tidak semua orang tua tidak bekerja pada hari Sabtu, masih banyak orang tua murid yang harus bekerja bahkan pada hari Minggu sekalipun. Jika semua orang tua murid bekerja di bank atau sebagai PNS mungkin alasan Pak Menteri masuk akal.

Saya rasa partisipasi orang tua murid dalam pendidikan anak setiap hari lebih penting daripada hanya partisipasi pada hari Sabtu dan Minggu. Orang tua harusnya selalu terlibat dengan aktivitas anak di sekolah, minimal dengan bertanya kegiatan apa yang didapat di sekolah hari ini, apa yang dipelajari dan apa yang bisa dipetik dari pengajaran guru disekolah.

Kenyataan yang dapat dilihat adalah para orang tua murid lebih suka bertanya nilai ulangan ataupun latihan anak – anaknya. Kalau nilainya tinggi, orang tua akan merasa senang tapi jika jelek maka para orang tua akan marah. Ini jelas bukan partisipasi yang baik dari orang tua dalam mendidik anak – anaknya, para orang tua harusnya sering berkonsultasi dengan para guru dalam mencari solusi yang terbaik untuk suatu masalah yang para anak hadapi. Ingat orang tua adalah orang tua “pertama” dan guru adalah orang tua “kedua”, jika mereka berkolaborasi dalam mendidik anak – anak maka hasilnya pun pasti akan luar biasa.

Kemajuan suatu negara tergantung dari sumber daya manusianya, jika sumber daya manusianya berkarakter pekerja keras, santun, cinta tanah air, kaya akan pengetahuan intelektual dan pengetahuan agama yang cinta damai maka niscaya negara tersebut akan maju. Semoga Mendikbud kita bisa lebih mempertimbangkan semua aspek dalam menentukan sebuah kebijakan. Saya memang bukan seorang Profesor seperti beliau tapi saya hanya menyampaikan realita yang saya lihat dan tentunya beliau lihat juga selama ikut “blusukan” dengan Pakde Jokowi.

Peningkatan kualitas pendidikan lebih penting urgensinya daripada kuantitas penambahan jam belajar. Semoga Pak Menteri bisa memulai dengan perubahan mental para pendidik kita dan fasilitas – fasilitas penunjang pendidikan kita. Semoga para orang tua yang membaca artikel ini sadar bahwa komunikasi dengan anak sangatlah penting dalam pembentukan karakter anak. Kita butuh kerja keras berkelanjutan bukan bekerja dengan istilah ‘ganti Menteri ganti kebijakan’.



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply