Anggap Saja Istana Salah Pilih Orang


Afi (kompas.com)

Siang-siang bolong musim kemarau begini, hari Senin lalu (6/6) saya buka Line. Seperti kebanyakan anak muda yang memang menggantungkan hidup pada aplikasi chatting bikinan Jepang itu. Kadang saya berharap Line bisa memiliki fitur seperti WhatsApp semacam typing (kalimat tidak koheren). Eh setelah itu saya baca status Line seseorang yang membahas tentang Afi. Dalam hati, ini orang-orang Line kenapa kudet (kurang update) amat ya, padahal saya sudah agak lama mengikuti kasus Afi ini.

Bahkan saya juga berusaha untuk tidak usahlah membahas-bahas lagi tentang Afi ini. Kalau tulisannya esensinya bagus, tapi caranya salah, tetap salah. Kalau memang dia sering menyalin status orang, ya sudahlah, itu kesalahan dia. Kalau memang Istana mengundang orang model si Afi ini, orang yang melakukan ketidakjujuran dan minta maaf tetapi rasanya memang ada yang kurang dari maafnya, anggap saja Istana salah pilih orang.

Istana Merdeka itu sudah beberapa kali kok salah memilih orang. Salah satunya ya Anies Baswedan, akibat kerugian yang hampir ditimbulkannya, habis sudah karier politiknya di ranah Istana. Salah menempatkan juga pernah, seperti Jonan dimasukkan Menhub sementara nggak semua moda transportasi bisa semudah kereta api mengaturnya. Akhirnya ribut-ributlah masalah tarif pesawat dan yang paling membekas adalah masalah ojek online.

Pengganti kedua posisi kementerian ini juga agak salah pilih. Muhadjir membuat konsep super rancu dan nggak aplikatif untuk semua sekolah – sementara saya tahu cukup banyak SD yang kelas 1 dan kelas 2 saja masuk gantian karena tidak muat ruangannya. Belum kalau bicara kualitas sekolah. Budi Karya Sumadi juga diragukan kinerjanya oleh beberapa orang terkait kasus yang menimpa terminal 3 baru Soekarno-Hatta, belum masalah yang menimpa bandara sentral ini seperti mati lampu. Pada saat begitu, Pak BKS sebagai Dirut AP2 tidak banyak bicara. Padahal bandara adalah muka bangsa ini di depan internasional!

Ini baru dua kementerian lho. Sepertinya bisa melenceng jauh kalau saya banyak bicara masalah salah pilih orang yang dilakukan pihak Istana. Namanya salah, itu sudah natur manusia, tetapi….

Kalimat tadi bukan untuk cuci muka, bukan untuk alasan larut dalam kesalahan, apalagi mengingkari kesalahan tersebut. Kesalahan ada untuk dievaluasi. Kesalahan dihapus – pasca pengampunan dari Tuhan – bukan dengan ditutup-tutupi, dibenar-benarkan, namun harus diakui – kalau perlu dengan menangis. Kesalahan harus dikaji supaya tidak terulang lagi di masa depan  Inilah nilai plus dari rezim sekarang, yang membuat orang percaya akan rezim sekarang. Semua kesalahannya dievaluasi dan dijadikan pelajaran.

Contohnya kalau bicara soal infrastruktur, kebanggaan kita bukan karena Jokowi bisa bangun infrastruktur banyak, toh Pak Beye juga melakukan yang cukup signifikan: Cipularang, Cijago, Tol Semarang, Tol Makassar, sebagian Cipali. Jangan lupa kajian soal tol yang akhirnya dibangun pada masa sekarang juga dilakukan pada masa SBY, ini cukup mempermudah rezim sekarang lho. Hal yang bikin hebat adalah belajar dari evaluasi.

Skandal Brexit membuat percepatan tol dilakukan di sana-sini, sehingga dugaan saya tol sana bisa beroperasi penuh pada saat Natal dan Tahun Baru – saat Lebaran ini masih belum sempurna dan tentunya belum bayar. Belum kalau kita baca strategi anti sendatan yang sudah disiapkan polisi. Belum Waskita yang memihak pemerintah dengan membeli tol yang mangkrak gara-gara perusahaan konstruksi swasta, baik Bakrie apalagi MNC nyaris nggak kelihatan batang hidungnya. Sebagai bukti biar Seword nggak dibilang menyebar hoax => (sumber).

Hmmmm, balik ke kasus Afi. Pada saat diperkenalkan di sana-sini, pihak Istana sepertinya kurang cross check tentang latar belakang anak ini. Mungkin kurang memperhatikan kultur Facebook belakangan ini, yang membuat anak-anak muda banyak angkat kaki ke Twitter dulu, lalu setelah Line banyak menggelar promosi dengan game dan tentunya gratis Line dari salah satu operator seluler, pindah lagi ke Line. Kurang membaca pola serangan tim sebelah juga, karena cara background check ini juga tidak kita duga.

Dalam hal ini, karena memang Afi mengakui sendiri dia sempat copas dan plagiat status orang, berarti anggap saja tim istana kecele, salah lagi pilih orang untuk diajak ngobrol di Istana. Gambarannya begini:

Ada orang bertamu dan bersikap baik, diterima dengan hangat oleh Anda yang punya rumah, namun dia melakukan kesalahan cukup fatal yaitu pernah menghina bapak Anda di masa lalu dan belum minta maaf. Yang tahu kesalahan itu anak Anda yang nggak mengundang si tamu itu, lalu si anak minta Anda putus kontak dengan orang itu. Sialnya, baru diingatkan saat si tamu sudah pulang. Anda kaget kan? Padahal pada saat si anak mengingatkan, Anda lagi chatting sama tamu itu untuk berterima kasih.

Kemudian, anak Anda ngobrol-ngobrol dengan orang di lapangan kompleks. Dia curhat tentang tamu yang punya dosa besar sama pemilik rumah – ingat melecehkan orang tua seseorang adalah dosa besar. Eh sialnya anak Anda berhadapan dengan pembenci Anda, sakit hati dengan Anda akibat sengketa tanah, sehingga berusaha mengusir Anda dari kompleks bagaimanapun caranya.

Gerombolan yang diajak curhat oleh anak Anda bertamu, lalu bilang bahwa Anda orang tak tahu diuntung karena penghina bapak sendiri kok dikasih masuk rumah. Anda disebut orang durhaka oleh gerombolan itu. Bagaimana ceritanya…..

Pada saat itu anak Anda sadar bahwa dia salah lapak curhat, namun terlambat. Anda juga menyesal dengan hati masygul karena sudah salah dalam mengecek latar belakang seseorang. Tamu Anda yang sempat menghina bapak Anda juga minta maaf tersedu-sedu besok harinya karena begitu tertekan atas gosip-gosip di kompleks. Anda marah namun akhirnya memaafkan, anak Anda juga, anehnya gerombolan sebelah itu tidak.

Begitulah yang dirasakan Jokowi mungkin ketika membaca tentang Afi yang akhirnya ketahuan dia sering mengutip tanpa mencantumkan sumber. Suatu kesalahan memalukan di ranah akademis. Posisi serba salah. Di sisi satu, ia tidak mau generasi Indonesia jadi rusak semua dan punya mental tukang copas. Sisi lain, harus diakui Afi masih anak-anak yang harus belajar. Sisi lain lagi, Afi patut dikasihani karena dirinya kaget sekali ketika harus menerima terpaan politik akibat kelakuan Facebookers.

Makanya, untuk pihak Istana, tolong sebelum mengundang orang lain kali dicek latar belakangnya lebih dalam lagi, jangan sekadar karena viral. Soalnya, belakangan lagi ada taktik untuk menyebar-nyebar kesalahan orang yang dekat dengan angin dan pusaran politik untuk menjatuhkan namanya. Ini juga dilakukan untuk menjatuhkan nama baik pemerintah sekarang, yang tidak bersalah apa-apa sejauh ini secara hukum, sehingga ya gitu, harus dicari-cari celahnya.

Untuk kali ini, kesalahan mengundang seseorang yang belum siap menghadapi dunia tulis menulis dan segala konsekuensinya, anggap saja lagi kecolongan seperti salah memilih menteri waktu itu…. Besok-besok jangan diulangi lagi Pak Jokowi.

Begitulah Seword, yang gambarnya kura-kura.



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply