Bela Amien Rais Membabi Buta, Politisi PAN Ini Salah Data, Ada Apa??


Semalam, Rabu 13/06/2017, Indonesia Lawyers Club‏ (ILC) menghadirkan sebuah tema yang menarik tetapi seperti biasa menjadi ajang bagi kubu yang merasa dizholimi penguasa dan KPK untuk menyampaikan kritik dan serangannya secara membabi buta. Setelah sebelumnya memberikan ruang kepada kubu Rizieq yang ngawur pembelaannya, kini ruang bagi DPR dan kubu Amien Rais.

Ya, Tema ILC semalam adalah “Amien Dituduh KPK Digugat”. Seperti yang sudah-sudah kita saksikan, ajang ILC ini hanyalah jadi ajang cuap-cuap tanpa sebuah hasil atau keputusan yang menentukan apapun. Hanya jadi ajang saling menyampaikan pendapat dan sudut pandanganya. Tidak heran ILC beberapa kali kena larangan siar karena tidak karuan tayangannya.

Ketidakkaruan tayangan ILC ini berhasil dipertahankan pada tayangan semalam. Setelah sebelumnya banyak orang membabi buta membela Rizieq Shihab, kini banyak orang yang membabi buta membela Amien, menyerang KPK, dan memuji Amien Rais. Bahkan orang sekelas Mahfud MD pun dengan gagahnya menyatakan keyakinannya bahwa Amien adalah orang yang bersih.

ILC mengambil tema seperti ini tidak lain dan bukan karena saat ini seperti sedang ada dugaan, dan sepertinya tidak dibantah dalam tayangan ini, bahwa manuver DPR untuk semakin kuat dan gencar menyerang KPK adalah karena munculnya nama Amien Rais dalam persidangan kasus Alkes.

Kubu yang sebelumnya berbalik arah, sontak segera merapat mendukung pansus hak angket. Selain PAN yang memang punta kepentingan terkait kasus Amien Rais, Gerindra yang awalnya gagah menolak hak angket pun ikut masuk dalam pansus. Maklum saja, Gerindra tahu benar jasa Amien Rais dalam Pilkada Jakarta.

Silahkan lihat kultwit di

Yang paling aneh adalah pernyataan politisi PAN, Drajat Wibowo yang ngawur data dan ucapannya. Padahal, Drajat adalah salah satu orang yang ikut mewakili Amien Rais ke Gedung KPK untuk mempertanyakan perihal disebutkannya nama Amien Rais dalam persidangan kasus suap Alkes dengan tersangka Siti Fadilah.

Berikut adalah pernyataannya..

| “Transfer thn 2005, sedangkan proyeknya sendiri thn 2007…. knp nama Pak Amien dimunculkan?” Drajad Wibowo.

Pernyataan Drajat yang ngawur ini tentu saja menjadi pertanyaan besar. Drajat memang salah ucap atau karena sudah gelap mata dan membela membabi buta, maka data yang disampaikannya menjadi ngawur tidak karuan seperti itu.

Padahal kalau melihat apa yang menjadi pernyataan Jaksa KPK dalam persidangan tersebut, Menurut jaksa KPK, rekening Amien Rais enam kali menerima transfer uang. Setiap kali transfer, Amien menerima Rp 100 juta. Rekening Amien Rais tercatat pertama kali menerima uang tersebut pada 15 Januari 2007 dan terakhir 2 November 2007.

Kenapa Drajat malah menyebut datanya terbalik-terbalik seperti itu?? Padahal dia datang ikut ke KPK dan pasti sudah paham betul penjelasan dari KPK. Proyek adalah pengadaan alat kesehatan di Kementerian Kesehatan tahun anggaran 2005. Transfer dilakukan awal 2017.

Jadi, kalau karena kesalahan data tersebut Drajat mempertanyakan kenapa nama Amien Rais muncul malah jadi keanehan. Nama Amien sangat mungkin menerima dana tersebut kalau melihat kronologis proyek dan transfer yang diterima oleh Amien. Yang perlu dibuktikan adalah apakah benar itu adalah dari korupsi Alkes??

Kalau masalah ini, KPK sudah berjanji akan mengusut hal ini kalau sudah ada putusan persidangan. Kalau terbukti dan hakim sudah memberikan vonis hukuman, maka KPK akan segera mengusut aliran dana tersebut.

“Kasus itu memang ada di dalam sidang, kita tunggu dulu keputusan hakim karena perkaranya kan belum selesai,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan.

“Kalau selesai nanti penyidik akan pelajari dalam bentuk penyelidikan atau apapun,” ujar Basaria.

Kelakuan para politisi PAN dan DPR yang menyerang KPK dan tidak sabaran menunggu proses hukum menjadi suatu pertanyaan besar di negeri ini. Proses hukum dibawa ke dalam politik adalah sebuah kekeliruan besar. Sikap Amien Rais dan anggota DPR lainnya yang mendukung dan mengusung hak angket KPK malah menimbulkan sebuah kecurigaan. Khususnya mengenai kasus Amien Rais ini.

Amien Rais menurut saya cukup sampaikan saja tidak tahu menahu uang tersebut berasal dari mana. Kalau yang terjadi seperti ini saya malah jadi tambah curiga bahwa memang benar uang ini adalah jatah buat Amien Rais. Manuver-manuver politik selalu erat kaitannya dengan adanya suatu kebusukan yang sedang ditutupi. kalau tidak, pasti akan sangat siap menghadapinya.

Itulah mengapa, orang-orang seperti Jokowi dan Ahok, tidak pernah gentar sedikit pun kalau namanya disebutkan dalam kasus dugaan korupsi. Seperti ahok yang namanya sempat diseret-seret dalam kasus RS Sumber Waras. sampai saat ini, KPK tidak bisa menjerat Ahok karena semua data lengkap dimilikinya dan berhasil mentahkan semua argumen KPK.

kalau tudingan KPK takut terhadap hak angket ini menurut saya adalah sebuah kesimpulan yang salah. Kita malah seharusnya mempertanyakan, mengapa hak angket ini perlu dibuat?? Adakah sesuatu yang disembunyikan?? Menurut hemat saya sih, pasti ada.

Salam Ngawur.



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply