Bukan Kisah Cinderella (5)


Dear diary…

Akhirnya olah raga yang kupilih adalah renang. Kebanyakan teman-temanku pada tidak bisa berenang semua, jadinya aku hanya bisa mengajak mereka yang mau dan bisa berenang untuk menemaniku. Dulu saat SD memang pernah dileskan berenang oleh Mamaku. Cuman, aku malas melanjutkan. Yang jago berenang itu Kakakku. Semua gaya dia bisa, dari gaya dada, gaya bebas, gaya punggung dan gaya kupu-kupu. Yang aku tak bisa hanya gaya kupu-kupu, karena ketika aku mencoba mempraktekkannya seperti orang mau tenggelam! Malu rasanya dilihat orang banyak.

Selesai berenang, ada fasilitas jacuzzi dan saunanya. Hanya saja, karena jacuzzinya sedang diperbaiki, aku mencoba sauna. Panes banget di dalam! Sahabatku bisa tahan tanpa bergerak sama sekali. Aku sudah pindah-pindah tempat duduk karena tidak tahan panasnya. Tidak lebih dari 10 menit di dalam. Ampun, tidak bisa lebih lama lagi. Bisa-bisa pingsan di dalam. Begitu keluar, minum air putih 2 gelas. Jadi mengerti apa arti dehidrasi…

Sempat diajakin sahabat karibku pergi ke Thailand. Huhuhu…! Sudah pernah ke luar negeri dan sekarang agak mikir-mikir lagi kalau mau pergi. Bukan apa-apa, sih… Tapi, nabungnya lama banget dan ngabisinnya itu dalam beberapa hari yang aku nggak tega. Memang sih sudah pasti nyari tiket itu yang murah, promo sampai hotelnya juga. Tapi…, tahu sendirilah namanya anak ceweq, belanja pasti gila-gilaan. Apalagi sampai lupa waktu dan lupa daratan. Cius ini!

Jadi inget kalau tahun lalu pergi ke Kuala Lumpur. Dapat tiket murah banget, pulang pergi dan hotelnya nggak semahal kalau pergi ke Bali naik pesawat pulang pergi pas lebaran. Hahaha. Mumpung pertama kalinya ke luar negeri, aku mau saja dipilihkan destinasinya Kuala Lumpur. Tanya kanan kiri kira-kira nyangu berapa duit pergi ke sana. Sempat sih mau ke Singapura sekalian, tapi ternyata dari Kuala Lumpurnya kejauhan, pakai bis bisa makan waktu seharian bolak balik. Sedangkan aku di sana tidak sampai seminggu, hanya 4 hari 3 malam saja.

Mencoba kuliner di negeri orang asyik-asyik saja, walaupun secara incip-mengincip aku belum mencoba seluruh kuliner di Indonesia. Kalau ada waktu (dan ada dananya juga pastinya) aku mau coba keliling Indonesia, ah. Dapat beli permen asam di salah satu toko permen di Kuala Lumpur. Permen yang ditimbang gitu, ada juga cemilan. Sahabat karibku beli yang cemilannya.

Yang bikin kalap itu adalah saat pergi ke salah satu pabrik coklat di Kuala Lumpur. Rasanya ingin beli semua variant cokelatnya tapi Ringgit yang kubawa tidak terlalu banyak. Akhir, mencoba beli cokelat pedas. Hahaha. Ada juga dark chocolate 70 persen. Tidak pahit tapi bener-bener pekat cokelatnya. Akhirnya sempat patungan beli cokelat 3 gratis 1 dengan sahabatku. Lumayan, hitungannya jadi lebih murah.

Tak jauh dari tempat pabrik coklatnya itu ada pula pabrik tas kulit. Awalnya aku agak ogah-ogahan ke sana, karena memang tidak ada tujuan beli tas. Hanya saja, sahabatku ini dari sebelum berangkat ke Kuala Lumpur memang tujuannya beli tas yang harganya bisa beda ratusan ribu dari harga di Indonesia. Okelah, nurut saja.

Masuk ke pabriknya, kupikir akan diperlihatkan cara pembuatan tasnya. Ternyata tidak. Malah tampilannya seperti toko. Harganya bikin mendelik semua. Kalau diRupiahkan tetap saja bunyinya jutaan. Dalam hati aku sudah memilih untuk tidak belanja. Sama sekali. Itu dalam hati, ya. Kenyataannya? Pas tahu ada yang didiskon dan bentuknya keren abis, plus bahannya dari kulit asli… berubah pikiran tak sampai 3 detik. Mumpung murah, lhooo. Diskon sekitar 70 persen! Dari harganya yang semula kalau diRupiahkan menembus 2 jutaan, setelah diskon jadi 500 ribuan. Lumayan banget, ‘kaaan? Kalau pulang ke Indonesia bisa bilang tasnya beli di luar negeri. Hehehe. Kok alasannya jadi norak banget, yak?

Lalu ada temanku yang memang suka mengumpulkan tumblr Starbuck dari berbagai kota. Nah, kali ini dia nitip yang ada tulisannya Kuala Lumpur dengan harga yang nggak mahal-mahal amat. Jadilah kami transaksi via Whatsapp, sekalian mengirim foto-foto tumblr yang dijual. Itu fotonya penuh perjuangan, lho. Karena sempat bolak balik masuk standnya Starbuck tapi tidak belanja. Yahhh…, namanya juga dititipin, jelas aku tidak nongkrong di sana. Di Indonesia juga ada Starbuck.

Baca:
Bukan Kisah Cinderella (1)
Bukan Kisah Cinderella (2)
Bukan Kisah Cinderella (3)
Bukan Kisah Cinderella (4)



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply