Perlunya Kecerdasan Kebangsaan Untuk Cegah Terorisme






Jakarta – Pengamat Intelijen Stepi Anriani mengatakan, masyarakat perlu memperkuat civic intelligence (kecerdasan kebangsaan) guna mencegah masuknya jaringan terorisme di Indonesia. Stepi pun menilai Pancasila sebagai falsafah bangsa jangan hanya dijadikan pajangan saja tetapi harus menjadi ruh dan bagian dari setiap pribadi bangsa Indonesia.

“Menurut saya Pancasila bukan sekadar barang ditaruh di gedung, tapi yang paling penting ruhnya, kecerdasannya, civic intelligence-nya, nasionalismenya,” kata Stepi dalam kegiatan diskusi di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan, Selasa (13/6/2017).

Stepi juga memandang sudah saatnya Pancasila ini tidak hanya diajarkan secara teoritis. Masyarakat harus diberikan pengalaman untuk ikut terlibat langsung dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Lebih kepada hal-hal aplikatif tidak hanya sekadar teori,” tuturnya.

Dia menyampaikan hal itu agar masyarakat Indonesia tetap waspada dan tidak terbawa arus dengan adanya ancaman terorisme yang nyata saat ini. Salah satu yang paling gencar hari ini untuk merekrut anggota dan menebarkan rasa takut adalah jaringan ISIS.

Stepi lantas berbicara mengenai tahapan-tahapan yang dilalui oleh jaringan terorisme untuk merekrut anggota. Langkah pertama, gerakan terorisme biasanya berusaha untuk membangkitkan emosional masyarakat dan memunculkan amarah.

“Membangkitkan emosional, bangkit dulu nih emosi-emosinya, tadi kecemasan-kecemasan. Munculah amarah terhadap kelompok tertentu,” tuturnya.

Tahapan kedua, anggota yang telah terpengaruh emosinya diajak untuk berbaiat. Mereka menyatakan siap untuk mendirikan negara islam.

“Tahap baiat, hijrah. Hijrah berpindah dari yang tidak baik ke yang baik. Di sini hijrah itu pindah untuk ISIS,” terang Stepi.

Terakhir, anggota yang telah berbaiat ini pun diajak untuk melakukan amaliyah atau aksi nyata. Amaliyah ini beragam dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

“Amaliyah, aksi nyata. Eh lu gua kasih tiga pilihan, mau bom bunuh diri, mau masuk peperangan Suriah atau yang ketiga ikutan latihan militer. Terakhir dianggap imannya paling rendah menurut mereka kalau kamu tidak mau jadi pengantin bom bunuh diri, tidak mau dikirim ke perang, tidak mau latihan militer, tolong kumpulkan uang buat kami,” imbuh Stepi.

Selain itu, mereka juga mempunyai tim media khusus untuk melancarkan propagandanya. Karena itu, Stepi menilai yang perlu dibunuh adalah pikirannya bukan fisik dari teroris tersebut.

“Kita tidak membunuh secara fisik tapi pikiran, jangan sampai pikiran-pikiran pada tahap kita, dan caranya adalah melawan lewat budaya yang sering kita lupakan,” tukasnya.

(knv/bag)



Source link

Tinggalkan Balasan