Logika Sesat Ricky Gerung, ” Lingkungan Pemerintah Bodoh”, Soal Perpu Ormas


Ricky Gerung

Menarik dalam acara ILC, Selasa (18/6/2017) tampilnya Rocky Gerung atas undangan dari Karni Ilyas, dengan tema, ” Panas Setelah Perpu Ormas”. Di mana Ricky, selalu memojokan Pemerintahan Jokowi, dengan mengatakan bukan sesuatu kegentingan yang memaksa melainkan memaksa adanya kegentingan.

Ricky Gerung, memang konsisten mulai dari awal kontra dengan pemerintahan Jokowi. Di matanya Pemerintah itu selalu salah. Contoh kongkrit, dimana Ricky Gerung saat acara ILC, Hoax Vs Kebebasan Berpendapat” di ILC (17/1/2017) seakan menjadi sasaran tembaknya pada waktu itu, dimana dia mengatakan” Presiden menyebar hoax

“Sore tadi saya baca, Pak Jokowi bilang, ‘Jangan membaca Jokowi Undercover karena buku itu tidak ilmiah’. Saya anggap itu hoax,” kata Rocky disambut tawa sebagian peserta ILC.
“Karena yang ngomong itu adalah presiden, memberi penilaian pada buku tidak ilmiah. Tentu kita bisa bikin secaman simulasi dari mana Pak Jokowi tahu. O, pasti kalau ada wartawan tanya dia akan bilang, ‘kata Pak Tito. Kapolri’ Lho, Pak Tito rektor UI atau rektor ITB itu?” kembali peserta ILC tertawa.

“Jadi Anda lihat bahwa, bahkan presiden menyebar hoax itu. Dari sudut pandang definisi lho,” tegas Rocky disambut tepuk tangan.
Menurutnya, yang berhak menentukan suatu buku ilmiah atau tidak adalah kampus.

Sementara buku tersebut justru dilarang dibahas di kampus untuk mengetahui ilmiah atau tidaknya.

Atau mengatakan Pembuat hoax terbaik adalah penguasa. Karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik dia punya, media dia punya. Orang marah. Tapi itu faktanya. Hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna. Saya tidak ingin dia berbohong tapi potentially dia bisa lakukan itu,” kembali tepuk tangan meriah mengiringi pernyataan Rocky.

Kesesatan berpikir Gerung, kembali dilantunkan malam tadi, saat acara ILC, di salah sati stasiun Televisi.

Ricky mengatakan, ” Dalam penjelasan Wiranto sedang bermetafora dengan perumpamaan yang disampakaikan Wiranto, selaku Menkopolhukam, dengan menganalogikan tubuh adalah Indonesia, Pancasila dan kanker dalam tubuh harus dibasmi jangan sampai mengganggu sel-sel tubuh lain yang positif.

Dalam pernyataan tersebut tidak ada yang salah apa yang disampaikan Wiranto apalagi mrnyebutnya metafora. Itu adalah perumpamaan yang kontekstual yang menggerogoti Negara Kesatuaan Republik Indonesia. Ricky Gerung justru yang metafora dengan mengikuti alur analogi Wiranto, soal Kanker dimana ada proses bunuh diri agar kanker tidak menyebar ke sel-sel tubuh atau mungkin tubuh sehat karena mungkin tidak olahraga atau kekurangan Karbohidrat.

Kekacauan berpikir Ricky Gerung, seperti kebakan Jenggot yang mengatakan metafora, tetapi, hal ikhwal dia sedang bermetafora sesungguhnya.

Kekacauan berpikir terus akut, ketika mengatakan lingkungan sekitar Jokowi bodoh. Kekacaaun ini, sebaiknya tidak terjadi agar masyarakat tidak gagal paham dalam menanggapi sesuatu. Ini pencemaran nama baik Institusi Pemerintahan, meskipun Ricky Gerung tidak menyebut Institusi apa. Tetapi, secara eksplisit Ricky Gerung sudah masuk ranah pencemaran Institusi Pemerintah.

Dalam hal ini, argumentasi Ricky Gerung seakan- akan ingin mengadu domba Jokowi dan orang- orang terdekat Jokowi, dalam ini, Institusi Pemerintahan.

Kekacauaan berpikirnya pun, terus berlanjut dengan mengatakan Perpu ini penuh nuansa politis, dengan menyebutkan Perpu yang dikeluarkan tidak ada hubungan dengan HTI dan menyamakan seperti e- KTP kalau dihubungkan dengan hak angket KPK.

Dalam hal ini, Ricky Gerung, berusaha untuk menggiring dua isu yang jelas- jelas berbeda pusaran substansinya. Kekacuaan berpikir ini, kalau dilanjutkan, bisa menjadi premis yang kontraproduktif. Yang mana, e- KTP adalah penuh nuansa politis dengan segala bentuk intrik yang dilakukan DPR kepada KPK. Dan masalah kebangsaan, NKRI dan Pancasila adalah masalah yang urgen demi kemaslahatan masyarakat banyak.

Ada ancaran meneriakan Khilafah, ada yang meriakan demokrasi itu tidak baik, Pancasila itu tidak baik. Dan masih banyak lagi, yang kita sebagai awam tidak mengetahuinya, bagaiman menyebarnya virus indoktrinasi paham radikal ini. Kesasatan berpikir Gerung, sudah melampui intelijen, Pemerintah khususnya yang sudah mempelajari ini dalam dan jauh- jauh sebelumnya.

Logika berpikir Gerung, yang berusaha memasukan dua isu dalam satu frame, adalah kesesatan berpikir keliru. Alhasil, kita akan diperhadapkan dengan kesimpulan yang sesat dan sungguh mengaburi esensi Perpu itu sendiri maupun esensi hak angket tersebut.

Dimana, dalam publikasi sebuah karya banyak eksplorasi dilakukan dengan menggunakan metode kombinasi analisa isi dan survey. Hasil-hasil penelitian lanjutan adalah beragam. Ada yang memperkuat, akan tetapi tidak sedikit yang memperlemah temuan  McCombs dan Shaw. Mengapa demikian? Rogers (1997) dalam A Paradigmatic Hystory of Agenda Setting Research, berpendapat bahwa kurang diperhatikannya on going process dalam framing[2] dan priming[3] agenda media; maupun on going process dalam agenda public, seringkali menyebabkan kesimpulan yang diperoleh dalam studi agenda setting tidak sesuai dengan realita yang ada. Dengan begitu, bisa jadi hasil-hasil penelitian yang beragam itu ada yang bersifat semu. Artinya hubungan yang terjadi disebabkan karena pilihan sampelnya kebetulan mendukung/tidak mendukung hipotesis yang dikembangkan, atau mungkin pilihan isu-nya kebetulan menyangkut/tidak menyangkut kepentingan kelompok responden.

Saya rasa, ini tidak bisa dinafikan oleh Ricky Gerung yang suka memojokan Pemerintah, dan suka bermain di ranah diskursus yang sifatnya mengaburi dan membingungkan dan mengaburi esensi dari sebuah persoalan.



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply