Pelacur Agama


Foto: facebook

Orang ini, dengan terang-terangan menyebut ada ulama sebagai pelacur agama. Meskipun konon dia pernah nguping pengajiannya Cak Nun, atau Nuredan menyebutnya Markenun, saya tidak yakin tudingannya ke NU itu karena terhasut omongannya Markenun. Namun dari sindiran itu, kita dapat membaca arah tudingan tersebut. Orang ini menyandang gelar Gus, meskipun bukan anak kyai. Dan yang paling nggegirisi, dia tidak pernah belajar agama secara khusus. Bodoh dalam arti sebenarnya. Karena konon, sekolah formalnya pun tak lulus SD.

Orang-orang menyebutnya Gus Nur, nama lengkapnya Sugi Nur Raharjo. Ia idola para buruh migran (TKI). Sering mengisi pengajian di sana. Orang yang tak becus baca Quran ini punya pondok untuk menghapalkan Quran (tahfizul quran). Kabar terbaru, orang ini menjual tatacara shalat khusyuk dengan mahar 300 ribu.

Nur ini menguasai debus, semacam trik khusus dalam akrobat. Dengan itu ia menarik jamaahnya. Tentunya dengan cara melebih-lebihkan. Melihat sekilas ceramahnya, juga kepandaiannya melihat peluang keberpihakan, saya yakin telah banyak yang menjadi pemuja setianya. Sebagai contoh keberpihakan, dulu ia mengkritik Rizieq, sekarang ia memujinya.

Sejauh yang bisa saya telusuri, Nur ini sudah dianggap tokoh agama. Satu hal paling konyol di Negara ini: setiap orang tiba-tiba bisa jadi ahli agama. Kementerian agama dan MUI menjadi terlihat tidak berguna di sini. Mereka baru akan turun tangan ketika terdapat masalah. Selama tidak ada masalah besar, ulama gadungan dibiarkan menyestakan umat. Dengan tetap menaruh hormat pada ulama-ulama sungguhan di dalamnya, sebaiknya dua organisasi ini dibubarkan saja.

Ustadz palsu, ulama gadungan, dai karbitan, ada di mana-mana. Selama ini Kementerian Agama dan MUI tidak melakukan standarisasi keulamaan. Untuk menjadi pegawai rendah di perusahaan swasta saja harus melalui serangkaian seleksi dan ujian. Namun untuk menjadi ulama di Indonesia syaratnya hanya harus bisa ceramah. Aa Gym sudah dianggap ulama, meski tidak belajar agama secara khusus. Ustadz Tengku dianggap ulama, walaupun juga diragukan keilmuannya. Lagipula mulutnya tajam untuk ukuran seorang ulama. Dan sesudah aksi ustadz Syam yang menghebohkan tempo hari, fenomena Gus Nur ini juga muncul ke permukaan.

Sebenarnya sudah cukup lama dia akting menjadi ulama. Namun ketika dia menyerang NU dengan sindirannya itu, baru orang-orang memperhatikannya. Haters NU menyanjung-nyanjungnya. Menganggapnya salah satu ujung tombak NU garis lurus. Limpahan fans haters NU bertambah semakin besar ketika Gus gadungan itu juga menyerang Jokowi. Gampang ditebak, namanya sedang harum-harumnya sekarang ini di kubu sebelah. Ia sedang berada di puncak popularitas. Kemenangan yang mudah.

Bahaya fenomena ulama gadungan sebenarnya bukan hanya soal kerugian materi. Orang banyak bisa dibodohi dengan ritual berbayar, membuat trik sulap dan menyebutnya karomah. Orang-orang takjub, ngowoh, ilernya ndlewer. Namun bahaya dari ulama gadungan terletak pada fanatisme pengikutnya. Markenun hari ini sudah seperti nabi. Sedikit disenggol saja, penggemarnya ngamuk. Padahal dulu dia ini seniman, sekolahnya Muhamadiyah (SMP-SMA). Gus Nur ini juga sudah punya penggemar fanatik, di antaranya para buruh migran itu. Ending dari fanatisme buta semacam itu adalah berani menjelek-jelekkan ulama sungguhan.

Tidak heran jika ulama sekelas Kyai Said atau Habib Qurais Syihab disesat-sesatkan. Sementara ulama-ulama gadungan disanjung setinggi langit.

Sebenarnya tidak masalah menyanjung seseorang, mencintai secara fatal. Itu hak asasi. Namun menyerang yang lain hanya karena pengkultusan berlebihan adalah problem sosial yang serius. Menjadi bodoh adalah pilihan, tapi menghormati sikap kritis orang lain adalah kewajiban. Selama kritik itu berdasar dan logis.

Melihat kekonyolan dalam Islam hari ini menerbitkan rasa malu luar biasa. Agama lain sebenarnya juga ada oknum yang merendahkan agama mereka. Namun dalam lingkungan mayoritas, kekonyolan oknum dalam agama lain tidak terlihat. Baru saja ada ulama cabul, korupsi alquran, bisnis tipu-tipu, dai TV palsu, masih ditambah pula ulama gadungan model gus Nur ini. Ke mana muka Islam kita hendak disembunyikan?

Gus Nur secara tersirat menuduh NU melacurkan agama hanya gara-gara kabar hoax tentang bantuan dana 1,5 triliun dari Pemerintah. Sama seperti Markenun yang sampai sekarang tidak mengeluarkan klarifikasi, ulama cap badak yang sedang naik daun ini juga tak menggubris kegelisahan nahdliyin. Lagipula nahdliyin kebanyakan mungkin sudah tak perduli, atau diam-diam justru percaya pada mereka berdua ini? Berarti jumlah NU garis lurus naik signifikan. Inilah saatnya mengatakan, sempurna…

Takbir!!!

 

Kajitow Elkayeni

Hanya nahdliyin biasa, bukan anak kyai yang layak diGuskan

 

Tulisan lain klik Di sini

 



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply