Lima Syarat-Ideal Cawapres Jokowi Versi Boni Hargens


BERITA JAKARTA – Pengamat politik Boni Hargens mengatakan, ada lima syarat ideal yang harus dipenuhi kandidat Wakil Presiden (Wapres) pendamping Jokowi pada Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Diungkapkan Boni, diantaranya, calon merupakan sosok pekerja keras, mampu mengendalikan dan meredam kekuatan kelompok radikal, didukung partai politik besar, memiliki kemampuan finansial serta elektabilitas yang tinggi.

Syarat kandidat harus pekerja keras dianggap penting, guna mengimbangi karakter Jokowi yang gemar bekerja sedikit beretorika.

Sementara, kemampuan meredam kelompok radikal harus ada pada calon, karena ancaman ke depan bangsa diperkirakan hadirnya gangguan terhadap ideologi Pancasila. Atas itu, calon Wakil Presiden diharapkan juga seorang yang nasionalis.

“Calon Wakil Presiden Jokowi juga harus didukung oleh partai besar, mengingat posisi Jokowi yang bukan Ketua Umum partai politik tertentu,” kata Boni melalui keterangan tertulisnya, Rabu (6/12/2017).

Pendamping mantan Walikota Solo itu juga harus mempunyai kemampuan finansial. Namun bukan berarti calon berprofesi sebagai pengusaha.

Melainkan sambungnya, seseorang yang mampu merangkul pemodal besar, sehingga kendala Jokowi yang bukan merupakan pengusaha besar yang memiliki modal kapital guna mendanai perjuangan politik pada kontestasi, bisa teratasi. “Sosok wapres harus mampu memperkuat elektabilitas Jokowi yang sudah memadai,” kata dia.

Mengacu pada kriteria, setidaknya sembilan nama yang dinilai memenuhi syarat tersebut. Diantaranya Budi Gunawan, Tito Karnavian, Gatot Nurmantyo, Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Sri Mulyani, Rini Soemarno dan Susi Pudjiastuti.

Budi Gunawan dinilai tepat mendampingi Jokowi, karena dianggap pekerja keras dan profesional. Sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), pria yang biasa disapa BG, berhasil mendongkrak kinerja BIN, terutama dalam menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme.

Ketegasan BG dan BIN dalam melawan kelompok radikal dan teroris, dikatakan sebagai prestasi yang pantas diapresiasi. “Ia pekerja tulen, bekerja keras dalam diam, profesional dalam membangun intitusi di mana saja ia ditempatkan,” jelas Boni.

BG juga berpotensi didukung partai politik besar seperti PDI Perjuangan dan partai lain, karena kemampuannya membangun jaringan. Kemampuan tersebut, diyakini bermanfaat untuk dipakai dalam menarik dukungan para pengusaha besar.

“Dari berbagai survey belakangan seperti yang dilakukan Poltracking dan Indo Barometer, terlihat bahwa BG adalah sosok yang potensial menjadi calon wakil presiden Jokowi. Ia dikenal luas oleh masyarakat pemilih dan elektabilitasnya potensial untuk didongkrak lebih tinggi lagi ke depan,” papar dia.

Sementara Tito, dinilai sebagai Kepala Polri yang tegas serta nasionalis. Ia juga dianggap cerdas dan profesional. Namun Tito dilihat belum menunjukkan ketertarikan terjun ke dalam politik praktis. “Saya tidak begitu yakin Tito tertarik untuk masuk ke dunia politik sekarang ini,” ucap Boni.

Gatot sendiri dianggap merupakan Panglima TNI yang kontroversial, salah satunya karena sempat diisukan menjadi calon Presiden melawan Jokowi dan calon Wakil Presiden Prabowo Subianto. Tapi semua isu ditepis melalui sikapnya yang konsisten menjaga pemerintahan Presiden Jokowi.

Gatot dirasa memenuhi cukup banyak kriteria, namun kontroversi yang terkait dirinya cukup mengganggu citranya. “Sehingga elektabilitasnya belum bisa dipastikan apakah akan menopang atau justru menjadi batu sandungan bagi Jokowi, bila dipasangkan di Pilpres 2019,” katanya.

Kandidat yang juga menarik ialah AHY, Ahok dan Susi. AHY unggul karena mempunyai dukungan partai politik yang jelas dan cukup cerdas sebagai anak muda. Sayangnya, AHY disebut tidak mempunyai pengalaman yang memadai dalam berpolitik. Sehingga menurut Boni, baru potensial menjadi calon Wakil Presiden (cawapres) pada Pilpres 2024.

Lalu Susi, dianggap sebagai sosok cawapres perempuan yang ideal karena memiliki popularitas dan integritas yang tinggi. Seperti Jokowi, ia juga pekerja tulen. Meski begitu, bekal dukungan partai politik yang dimiliki Menteri Kelautan dan Perikanan dinilai tak memadai.

“Ahok juga sosok yang ideal, karena bisa menarik dukungan dari kaum muda progresif dan kelompok minoritas. Sayangnya Ahok sudah ‘disembelih’ dalam Pilkada DKI Jakarta. Secara politis, ia bukan sosok yang realistis untuk memenangkan Pilpres 2019 karena justru memperkuat isu kelompok radikal yang ingin memanfaatkan agama sebagai modal politik,” pungkasnya. (Yon)

The post Lima Syarat-Ideal Cawapres Jokowi Versi Boni Hargens appeared first on BeritaEkspres.com.



Source link

Be the first to comment

Leave a Reply